Catatan Ringan dari Tanah Suci (Episode-5)

Sisi Lain Ibadah Haji Orang Pinggiran

Masjidil Haram –Masjid Paling Utama di Dunia
Adalah masjid dimana pada bagian tengahnya terdapat Ka’bah. Masjid ini berukuran sangat besar; bersama-sama dengan halamannya dapat menampung jamaah 900 ribu hingga 2 juta orang, memiliki 95 pintu masuk.

Pada masa Rasulullah saw., Masjidil Haram ini hanyalah berupa halaman kosong di sekeliling Ka’bah yang dibatasi rumah-rumah penduduk; tidak ada dinding tembok pembatas Masjid ini. Barulah pada masa Umar bin Khaththab dibuat dinding-dinding itu. Umar membuat dinding-dinding, pintu-pintu masjid, dan melapisi lantai tawaf dengan batu-batu kerikil. Umar membebaskan tanah di sekitar Masjidil Haram dan memperluas areal masjid pada tahun ke 17 Hijriah atau tahun 639 Masehi. Setelah itu Masjidil Haram mengalami perluasan dan renovasi berkali-kali, dan yang terakhir dilakukan oleh Raja Fahd pada tahun 1409 Hijriah atau 1988 Masehi, seperti yang kita saksikan sekarang.

Pintu dan Menara Masjid
Seperti disebutkan di atas, masjidil memiliki 95 pintu. Pintu nomor 1 (Baabul Malik Abdul Aziz) berdekatan dengan pintu nomor 95; lokasi keduanya dekat ke Hotel Hilton. Lokasi pintu-pintu tersebut, selain berfungsi sebagai akses keluar dan masuk jamaah, juga sangat berguna apabila kita hendak bertemu seseorang, sesama jamaah (teman, saudara atau siapa pun). Kita bisa janjian untuk bertemu di salah satu dari pintu-pintu itu.

Bagi para jamaah adalah penting untuk mengingat dari pintu nomor berapa kita masuk, agar memudahkan waktu kembali keluar masjid. Tidak jarang jamaah tersesat di dalam masjid. Tidak tahu harus ke pintu mana dia keluar untuk kembali ke penginapannya. Ada baiknya senantiasa membawa buku kecil, yang antara lain, bisa digunakan untuk mencatat nomor pintu ini.

Dari ke 95 pintu tersebut, empat di antaranya merupakan pintu-pintu utama. Pintu-pintu ini dibedakan dengan pintu yang lain dari ukurannya yang besar. Keempat pintu tersebut adalah: Baabul Malik Abdul Aziz, Baabul Fath, Baabul Umrah, dan Baabul Malik Fahd). Keempat pintu itu juga diapit oleh menara-menara indah, menjulang tinggi.

Ada delapan menara yang tiap dua menara tersebut mengapit pintu utama, dan 1 menara berada di sebelah pintu Shafa. Sehingga total menara di masjidil Haram adalah sembilan. Menara-menara inilah yang bisa terlihat dari jarak agak jauh. Selain menara, seluruh bagian Masjidil Haram terkungkung oleh gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Pendingin Udara
Apabila kita duduk atau berdiri di lantai Masjidil Haram, kita akan merasakan dinginnya lantai itu. Mengapa dingin? Tentu saja karena di bagian bawahnya disalurkan udara dingin dari mesin pendingin alias AC. Dinginnya lantai ini, pada siang hari, menambah nikmatnya shalat di dalam masjid. Kalau tanpa pendingin, terlebih ketika kita melakukan tawaf, lantai akan terasa panas sekali. Alhamdulillah, teknologi modern, sekali lagi, bisa menambah nikmatnya beribadah di Masjidil Haram.

Toilet dan Tempat Wudlu
Pada bagian halaman masjid terdapat bangunan toilet dan tempat wudlu yang sangat besar, masing-masing untuk laki-laki dan perempuan, terdiri dari dua lantai, di bawah tanah. Satu terletak di halaman masjid antara pintu nomor 1 (Baabul Malik Abdul Aziz) dengan Hotel Hilton, satu lagi terletak di halaman masjid dekat pintu Marwa (dekat Pasar Seng). Luas keseluruhannya mencapai 14.000 m2. Di tempat ini kita bisa berwudlu dengan santai, sambil duduk pada batu marmer.

Pada waktu-waktu shalat, beberapa menit menjelang adzan, tempat ini dijejali jamaah. Tapi, kendatipun jamaah demikian banyak, kran-kran yang ada, juga jumlahnya sangat banyak, cukup memadai untuk jamaah (saya pernah menghitungnya, tapi sekarang lupa lagi). Anda tak perlu khawatir antri lama.

Cukup beberapa detik saja antrinya (Kondisi ini sangat berbeda dengan fasilitas tempat shalat dan wudlu di banyak tempat di negeri kita, seperti di tempat-tempat sholat di tol Jagorawi, yang selain mushalanya sangat kecil, juga tempat wudlunya sangat tidak memadai!). Apabila Anda ada maksud ke toilet, sebaiknya dilakukan agak jauh dari waktu shalat. Supaya leluasa.

Pelataran bangunan toilet dan tempat wudlu ini, juga dimanfaatkan para jamaah yang tidak tinggal di maktab atau hotel, untuk menginap. Ada ratusan sampai ribuan jamaah menginap di sini. Tidak hanya jamaah laki-laki, melainkan juga ibu-ibu dan anak-anak. Lumayan agak terlindungi dari dinginnya udara malam. Dan, yang lebih penting, tak perlu bayar penginapan. Di antara mereka, tak ada jamaah dari negara kita. Mereka umunya datang dari negara-negara Asia Tengah dan Afrika Utara.

Keutamaan Masjidil Haram
Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa suatu hari Abu Dzar berkata pada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di muka bumi ini?” Rasulullah menjawab, “Masjidil Haram.” “Lalu masjid apa lagi?” tanya Abu Dzar. Beliau menjawab, “Masjidil Aqsha.” “Berapa lama antara keduanya?” lanjut Abu Dzar. “Empat puluh tahun,” kata Rasulullah.

Dari Jabir ra. Dikisahkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Shalat di masjidku ini adalah 1000 kali lebih utama daripada shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram. Karena shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali daripada shalat di masjid lain.” (H.R. Ibnu Majah).

Di dalam masjid inilah terdapat tempat-tempat paling mustajab di dunia. Di dalamnya ada Ka’bah dengan Hajar Aswad, Multazam, Pancuran Emas, Hijir Ismail, dan Makam Ibrahimnya. Juga Shafa dan Marwah. Dan, tentu saja sumur Zamzam.

Masjidil Haram dinyatakan Allah sebagai tempat yang aman. Allah berfirman:

Man dakholahu kaana aaminan

Siapa yang memasukinya, maka dia aman (QS. Ali Imran: 97)

Siapa pun yang masuk masjid, orang jahat sekalipun, maka dia terlindungi, aman, tidak bisa diganggu.

Sehubungan dengan shalat sunat yang hanya bisa dilakukan di masjid, tahyatul masjid, maka khusus untuk Masjidil Haram, tidak untuk masjid lain di seluruh dunia, dilakukan dengan tidak shalat, melainkan tawaf. Tahyatul masjid hanya dilaksanakan apabila keadaan tidak memungkinkan untuk tawaf; bisa karena banjir, seperti yang pernah terjadi pata tahun 1950; karena demikian penuhnya pelataran Ka’bah oleh jamaah yang sedang tawaf; atau khawatir ketinggalan shalat wajib berjamaah.

Tentang Pahala 100.000 kali
Tentang pahala demikian besar ini, menarik apa yang pernah disampaikan Ustadz Quraish Shihab, bahwa ganjaran yang sekian kali lipat itu adalah bagi yang shalat dengan sempurna. Artinya, dia berusaha untuk mendapatkan shaf terdepan, bukannya shalat yang dilaksanakan di lobby hotel, atau di bagian belakang, padahal masih ada shaf yang kosong di bagian depan masjid, tapi enggan untuk mengisinya. Memang, shalat di tempat-tempat tersebut sah-sah saja, akan tetapi shalat di dalam masjid dan apalagi berusaha mendapatkan shaf-shaf terdepan dengan mengisi celah yang kosong, jelas mempunyai nilai lebih.

Paling tidak, dia akan mendapat nilai dari usahanya itu. Kita semua tahu, Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang yang berusaha. Karenanya, seperti juga sering saya sampaikan kepada teman-teman, sebaiknya kita berusaha untuk tidak shalat di halaman masjid, tetapi berusaha masuk masjid. Dan, kalau mungkin, maju terus ke bagian terdepan. Ada sebuah hadits yang berkaitan dengan hal ini.

Tiga orang masuk ke masjid (ruangan terlihat penuh), salah seorang di antara ketiganya kembali, dan dua orang lainnya masuk. Yang seorang di antara keduanya, berhasil mendapat tempat kosong, maka dia duduk, sedang yang kedua duduk di belakang hadirin (tanpa mencari tempat kosong lainnya). Nabi saw. berkomentar, “Maukah kalian kusampaikan keadaan ketiga orang tadi? Salah seorang di antara mereka bermohon tempat kepada Allah, maka Allah memberinya tempat, sedang yang kedua malu, maka Allah pun memeperlakukannya dengan perlakuan orang yang malu, sedang yang ketiga –yang kembali- berpaling, maka Allah pun berpaling tidak memandangnya.” (HR. Tirmidzi).

Silahkan Anda memilih. Mau menjadi yang berpaling, yang malu, atau yang berusaha mendapat tempat sambil berdo’a pada-Nya?

Ka’bah
Ka’bah artinya bangunan empat persegi. Adalah bangunan berbentuk empat persegi mirip kubus, berwarna hitam, berada di tengah-tengah Masjidil Haram. Keempat dindingnya mempunyai panjang dan lebar tidak sama, berkisar sekitar 10 – 12 meter; tinggi 15 meter.

Posisi Ka’bah tidak persis mengarah barat-timur atau utara selatan, melainkan sedikit miring ke kiri atau ke kanan, tergantung dari mana kita memandangnya. Dengan demikian, keempat sudutnya tidak persis menghadap ke arah baratlaut-tenggara atau baratdaya-timurlaut. Kalau Hijir Ismail kita anggap berada di utara dan Hajar Aswad kita sebut berada di sudut tenggara, maka posisi Ka’bah bisa dikatakan miring ke kiri atau ke arah berlawanan arah jarum jam sekitar dua puluh derajat. Tetapi kalau kita anggap Hijir Ismail berada di baratlaut Ka’bah dan Hajar Aswad di timur, kita bisa mengatakan bahwa posisi Ka’bah miring ke kanan atau ke arah searah jarum jam sekitar 20 derajat.

Ka’bah adalah baitullah, rumah Allah. Kepadanya kaum muslimin di seluruh dunia menghadapkan wajah, ketika shalat. Kecuali Ruknul (ruknul artinya sudut; orang Indonesia memudahkan pelapalannya dengan rukun) Hajar Aswad, ruknul atau rukun yang lain diberi nama sesuai dengan ke negeri mana sudut itu menghadap :

Rukun Iraki, adalah sudut Ka’bah yang menghadap ke negara Irak di utara, atau tepatnya menghadap ke arah antara utara dan timurlaut (orang berbahasa Inggris biasa menyebutnya dengan NNE).
Rukun Yamani, yakni sudut Ka’bah yang menghadap Negara Yaman, ke arah selatan atau antara selatan dan baratdaya (SSW).
Rukun Syam, sudut Ka’bah yang menghadap ke Syam (Suriah) di arah barat atau antara baratlaut dan barat (WNW).
Rukun Yamani, sudut dimana terdapat Hajar Aswad, yaitu pada arah antara tenggara dan timur (ESE).
Perihal Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad, karena merupakan sudut-sudut yang memiliki arti khusus ketika tawaf, akan diuraikan dengan lebih rinci pada bagian terpisah.

Ka’bah adalah rumah peribadatan pertama yang ada di bumi. Firman Allah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untu (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang yang nyata (di antaranya) Maqam Ibrahim; dan barang siapa yang memasukinya, menjadi amanlah dia….” (Ali Imran: 96-97).

Ayat tersebut menerangkan bahwa sesungguhnya permulaan rumah yang didirikan bagi manusia di dunia, yang digunakan untuk beribadah kepada Allah, adalah rumah yang ada di Bakkah atau kota Makkah. Rumah itu diberi berkah dan sebagai petunjuk bagi manusia di seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Nabi Ibrahim; dan barangsiapa masuk kedalamnya, amanlah dia.

Di dalam Al-Qur’an, tidak disebutkan sejak kapan dan sudah berapa lama Ka’bah ini didirikan; dan Nabi Muhammad pun tidak menerangan hal itu. Al-Qur’an hanya mengatakan:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail….(Al-Baqaarah:127)

Ka’bah pertama kali dibangun oleh para malaikat. Dalam Kitab Usfuriah dikisahkan bahwa ketika Allah hendak menjadikan khalifah di muka bumi, para malaikat pun bertanya: ” Akankah Engkau menciptakan makhluk di sana, yang akan merusak di sana dan mengalirklan darah? Padahal kami bertasbih dengan puji kebesaran-Mu.” Maka murkalah Allah mendengar ucapan malaikat itu. Firmannya: “Aku tahu apa yang kalian tidak tahu.” Maka gentarlah malaikat, lalu bertawaf mengelilingi ‘Arasy tujuh kali.

Maka diampuni kesalahan mereka oleh Allah. Kemudian Allah memerintahkan mereka membuat bangunan di muka bumi, sehingga nanti jika anak cucu Adam berbuat dosa di bumi dan kemudian bertawaf tujuh kali, maka diampuni dosa mereka seperti ampunan yang diberikan kepada para malaikat. Para malaikat kemudian turun dan mendirikan sebuah bangunan yang kemudian dikenal sebagai Ka’bah…

Dari zaman ke zaman, Ka’bah mengalami beberapa kali renovasi. Sejak Nabi Adam as., Nabi Syits as., Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as., hingga zaman Raja Fahd bin Abdul Aziz.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra. bahwasannya ketika menurunkan Adam dari Surga, Alah berfirman: “Sesungguhnya Aku menurunkanmu bersama dengan sebuah rumah atau tempat yang di sekelilingnya digunakan tawaf sebagaimana juga halnya Arasy-Ku. Di sekitarya dijadikan tempat shalat, sebagaimana juga halnya Arasy-Ku.”

Dr. Muhammad Ilyas Abdul (2003) menyebutkan bahwa untuk menegaskan keberadaan Ka’bah sebelum dibangun oleh Nabi Ibrahim as, bahwasannya suatu hari Ibrahim berjalan hingga sampai di suatu lembah dimana ia dari situ ia tidak melihat Ka’bah, padahal wajahnya dihadapkan ke arahnya. Lalu, sambil mengangkat tangannya, ia berdo’a untuk anak keturunannya : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian orang cenderung kepada mereka. Dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. Ibrahim : 37)

Perlu diketahui bahwa Ibrahim berdo’a demikian itu setelah ia meninggalkan Ismail dan Ibunya di lembah tersebut. Hal demikian menunjukan keberadaan Ka’bah sebelum Ibrahim. Waktu itu, konsdisi Ka’bah sudah hancur; tinggal pondasinya saja. Di atas pondasi itulah Ibrahim dan putranya, Ismail, membangun kembali Ka’bah.

“ Dan ingatlah, ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar (pondasi) Rumah itu (Ka’bah) beserta Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami terimalah amalan kami. Seungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui (QS. Al-Baqarah : 127).

Suatu hari Ibrahim tiba di Makkah dan mendapatkan Ismail sedang duduk di bawah pohon yang terletak di belakang sumur Zamzam. Di sana Ismail sedang mengasah dan memperbaiki panahnya; ia hendak berburu. Ibrahim menyampaikan kepada Ismail bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengunjungi Makkah dan membangun sebuah rumah suci, dimana umat manusia hendak menyembah Allah. Ismail menyambut ajakan ayahnya dengan siap sedia untuk membantunya.

Ketika melihat sumur Zamzam, Ibrahim melihat ada tanah yang sedikit naik di dekat sumur. Ia lalu berkata kepada Ismail bahwa ini adalah tempat yang telah dipilih Allah sebagai rumah suci. Ibrahim dan Ismail kemudian berbagi tugas; Ismail menyiapkan dan mengumpulkan batu yang diperlukan dan membawanya kepada Ibrahim; Ibrahim memasang batu-batu itu menjadi bangunan Ka’bah. Sepanjang pekerjaan, Ibrahim dan Ismail seantiasa berdo’a:

“Tuhanku, terimalah (ibadah) kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dari banyak batu yang dipergunakan dalam membangun Ka’bah, ada dua batu yang menjadi sangat penting. Pertama, sebuah batu yang diletakkan di dekat sudut timur Ka’bah. Batu itu kelak dikenal sebagai batu hitam atau Hajar Aswad. Kedua, batu yang dipergunakan Ibrahim sebagai pijakan ketika melakukan pembangunan Ka’bah. Batu ini kemudian disebut Maqam Ibrahim. Keduanya akan diuraikan di bagian terpisah, di bawah ini.

Kisah Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah, direkam oleh al-Qur’an, dalam beberapa ayat:

Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya, Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim.” Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orag yang tawaf, yang itikaf, yang rukuk dan yang sujud.” Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo’a. “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa; dan berikanlah rezeki dari buah-buahann kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir.

Allah berfirman, “ Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail. “ Ya Tuhan kami terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu; jadikanlah di antara anak cucu kami, umat yang tunduk patuh pada-Mu; tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat ibadah haji kami; dan terimalah taubat kami.

Sesunguhnya, Engkaulah Yang Maha penerima Taubat lagi maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya, Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Al-Baqarah 124-129).

Katakanlah, “benarlah Allah.” Maka, itulah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya, rumah yang mula-mula dibangun untuk empat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manuasia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi oring yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam (QS. Ali Imran: 95-97).

Dan ingatlah ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah degan mengatakan, “janganlah kamu memeperserikatkan sesuatu pun dengan Aku; dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orangyang ruku dan sujud (QS. Al-Hajj: 26)

Setelah Ka’bah selesai dibangun, tugas Ibrahim tidak serta merta berakhir. Masih ada satu tugas lain: Ibrahim disuruh untuk mengumumkan pesan bahwa Ka’bah sudah dibangun, dan kini menjadi kewajiban bagi manusia yang percaya dengan keesaan Allah untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah dan Ka’bah. Kewajiban itu, mengikat semua muslim yang memiliki kemampuan fisik dan finasial untuk menyelesaikan perjalanan ini.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka; dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatanag ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya, dan sebagian yang lain berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka; dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka; dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua itu (Baitullah). Demikian perintah Allah. Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya…(QS. Al-Hajj: 27-….)

Apabila aku teringat kala di depan Ka’bah, hatiku menjerit, “Allah izinkan aku kembali ke sana. Limpahkan rizki yang banyak, halal, dan barokah agar aku bisa memberangkat banyak orang ke tanah suci-Mu, seperti halnya orang-orang yang telah menghantarkanku ke rumah-Mu.”

Pintu Ka’bah
Ketika pertama kali dibangun kembali oleh Ibrahim a.s., Ka’bah mempunyai dua pintu yang menyentuh tanah. Keduanya merupakan lubang yang tak ada tutup pintunya; hanya digunakan sebagai tempat keluar dan masuk Ka’bah. Pintu timur digunakan untuk masuk dan pintu barat untuk keluar Ka’bah. Raja As’ad Tubba’ III, salah seorang raja dari Yaman membuatkan daun pintu yang dapat dibuka-tutup.

Waktu kaum Quraisy merenovasi kembali Ka’bah, mereka menutup pintu barat; pintu timur ditinggikan dari permukaan tanah dan daun pintunya dibuat dua. Suatu kali, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Mengapa pintunya ditinggikan?” Rasulullah menjawab, “Kaummulah yang melakukannya, agar dapat memasukkan siapa yang mereka kehendaki, dan melarang masuk siapa saja sekehendaknya.

Andai saja saya tidak khawatir hati kaummu itu akan menyimpang karena baru saja keluar dari zaman Jahiliyyah, maka saya tentu akan membuatkan tembok di dalam Ka’bah itu, dan menyentuhkan pintunya ke tanah.” Pintu Ka’bah ini, ada kuncinya. Dulu, kunci Ka’bah ini dipegang sendiri oleh Nabi Ismail a.s., kemudian diwariskan kepada putranya, Tsabit, dan diteruskan kepada anak-anaknya, sampai akhirnya kepada Qushai bin Kilab, kakek keempat Nabi SAW.

Setelah futuh makkah, pada tahun 8 H, Nabi SAW meminta kunci itu dari Utsman bin Tholhah untuk membuka Ka’bah. Beliau masuk ke dalam dan tak lama keluar. Ketika keluar itu, Rasul bersabda, “ Ingatlah sesungguhnya setiap darah, harta dan perbuatan sewenang-wenang seperti pada masa Jahiliyyah adalah di bawah tangungjawabku untuk mengurusnya, kecuali pekerjaan memberi minum orang-orang yang sedang haji dan menjaga Ka’bah.

Sesungguhnya aku telah menetapkan keduanya untuk dikembalikan kepada yang berhak sebagaimana berlaku pada masa Jahiliyyah.” Ucapan Nabi itu kemudian diikuti dengan turunnya ayat: “Sesunggunya Allah telah menyuruhmu untuk menunaikan amanat kepada yang berhak atasnya”. Rasulullah lalu memanggil Ustman bin Thalhah dan mengembalikan kunci kepadanya sambil berkata, “Ambillah ini wahai Bani Thalhah untuk selamanya, sehingga tidak ada yang merebutnya kecuali orang yang dzalim.”

Menurut Ibnu Katsir, banyak mufasir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun menyangkut Utsman bin Thalhah. Dan, berdasarkan itu, kunci Ka’bah dikembalikan kepadanya oleh Nabi SAW. Kunci Ka’bah itu, terus diwariskan secara turun-temurun. Ucapan nabi mengenai hal ini, juga mengisyaratkan adanya kesinambungan dan keabadian keturunan Bani ibn Thalhah, serta keabadian tanggungjawab mereka mengurus dan menjaga Ka’bah sampai hati kiamat kelak.Kunci itu panjangnya 40 cm, tersimpan dalam tas dari kain sutera yang dihias dengan emas murni.

Multazam
Adalah suatu area seluas lebih kurang 2 meter persegi pada dinding Ka’bah, terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Demikian ditegaskan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid. Multazam adalah tempat dikabulkannya do’a. Di situ disunnahkan untuk berdo’a dengan menempelkan pipi, dada, lengan, dan kedua telapak tangan. Dikisahkan, Abdullah bin Amru, setelah tawaf lalu shalat dan mencium Hajar Aswad, kemudian berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, menempelkan dada, kedua tangan dan pipinya, sambil berkata, “Seperti inilah aku melihat Rasulullah melakukannya.”

Tentang Multazam, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Multazam adalah tempat yang mustajab, tidak seorang pun hamba Allah yang berdo’a di tempat ini kecuali akan dikabulkan.”

Ahmad Junaidi (2004) dalam bukunya Makkah Madinah mengutip kitab Akhbar Makkah, menerangkan bahwa ketika Nabi Adam a.s selesai melakukan tawaf, lalu shalat dua rakaat di depan pintu Ka’bah, kemudian berdiri di di Multazam dan berdo’a :

“Ya Allah, Engkau Maha mengetahui segala apa yang kau rahasiakan dan segala yang aku tampakkan, terimalah pengaduanku. Engkau Maha mengetahui apa yang ada dalam jiwaku dan segala apa yang ada padaku, ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui segala apa yang aku perlukan, berikan kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu iman yang memenuhi hatiku dan keyakinan yang mantap hingga menyadarkan aku bahwa tidak akan ada yang mencelakakan aku kecuali apa yang telah Engkau pastikan untukku, dan menyadarkan aku sehingga aku rela atas apa yang engkau tetapkan untukku.”

Setelah Adam selesai menyampaikan do’anya, Allah menurunkan wahyu kepada Adam, “ Wahai Adam, kau telah berdo’a dengan beberapa permintaan, Aku penuhi semua permintaan itu. Dan siapa pun dari anak-anakmu yang berdo’a dengan do’amu itu, pasti Aku hilangkan keresahan dan kesedihannya, Aku kembalikan apa yang hilang dari padanya, Aku cabut dari hatinya perasaan miskin, Aku jadikan dia kaya dalam kenyataan dan Aku sukseskan perdagangannya, sehingga kekayaan dunia berdatangan kepadanya walaupun tanpa ia minta.”

Ustadz Quraish Shihab menerangkan bahwa Multazam adalah tempat yang dapat dinilai paling utama. Multazam terambil dari kata lazim yang dalam bahasa Arab berarti “harus”. Multazam adalah tempat dimana Allah Saw mengharuskan diri-Nya untuk menerima permohonan setiap orang yang tulus kepada-Nya. Merengeklah di sana kepada Allah, pegang pintu Ka’bah –jika memungkinkan- cucurkan air mata sambil memohon apa saja yang Anda inginkan, baik kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi.

Rukun Yamani
Rukun Yamani berada pada sudut Ka’bah yang menghadap ke Yaman, sembilan puluh derajat searah jarum jam dari hajar Aswad. Setiap jamaah yang sedang melakukan tawaf, disunatkan untuk mengusap Rukun Yamani dengan tangan kanan, atau paling tidak –karena kondisi tak memungkinkan- cukup dengan melambaikan tangan kanan sambil membaca bissmillahi Allahu Akbar. Rukun Yamani juga merupakan tempat yang mustajab. Karenanya, ketika Anda tawaf dan bisa mendapatkan Rukun Yamani, jangan lewatkan kesempatan untuk berdo’a. Dari Ibnu Umar bahwa rasulullah SAW bersabda, “Seungguhnya mengusap keduanya akan menghapuskan dosa.”

Ketika bertawaf, setelah titik atau garis lurus dari Rukun Yamani ke arah luar Ka’bah berjalan searah jarum jam, Anda akan bertemu garis berwarna coklat pada lurusan Hajar Aswad. Pada seperempat putaran itu bacalah do’a yang Rasulullah saw contohkan, yakni do’a yang paling Anda hafal dari seluruh koleksi do’a Anda : “do’a sapu jagat”. Jadi, antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, bacalah do’a, “Rabbanaa aatina fid_dunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa adzabannaar.” (Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaika di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka)

Setelah redaksi do’a sapu jagat, para jamaah umumnya menambahkannya dengan do’a :

“Wa adkhilnal jannata ma’al abraar, yaa ‘aziizu yaa ghaffaaru, yaa robbal ‘aalamien”

(Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Pengampun dan Tuhan Yang Maha menguasai seluruh alam).

Hijir Ismail

Pada arah utara Ka’bah (tepatnya arah antara baratlaut dan utara; dalam bahasa Inggris lazim digunakan singkatan NNW) terdapat tembok setinggi lebih kurang satu setengah meter, membentuk setengah lingkaran, itulah Hijir ismail. Pada mulanya Hijir Ismail berbentuk lingkaran utuh, tetapai saat renovasi pada zaman Quraisy, separuh lingkarannya terpotong yang dalam bahasa Arab disebut hathim, artinya yang terpotong. Di situlah nabi Ibrahim a.s memjadikannya sebagai rumah kecil dari batng-batang pepohonan yang berdahan lebat yang diperuntukkan bagi Ismail dan ibunya, Siti Hajar. Di situ pula Ismail dan Hajar dimakamkan.

Pernah Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang dinding (Hijir Ismail) :” Apakah ia bagian dari Ruah Suci ini?” Nabi menjawab : “Betul.” Kemudian Aisyah bertaya lagi :”Mengapa mereka tak memasukkan sekalian sisanya ke Ka’bah?” “Sebab kaummu kekurangan dana …,” jawab Nabi. Jadi, ketika Ka’bah direnovasi kembali oleh kaum Quraisy pada tahun 606 Masehi, mereka kehabisan dana. Saat itu diumumkan bahwa hanya dana halal yang boleh disedekahkan untuk keperluan renovasi ini. Karena kekurangann dana itulah, mereka mengurangi panjang tembok sisi barat dan sisi timur di bagian utara tembok itu lebih kurang3 meter.

Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya Sejarah Mekah berpendspat bahwa, hanya sebagian dari hijir Ismail yang merupakan bagian dari Ka’bah, yakni 3m ke depan itu, sedangkan sisanya bukan bagian dari Ka’bah. Tetapi, jumhur ulama -setidaknya dari referensi yang pernah saya baca dan diskusi dengan beberapa ustadz- tidak menyebut-nyebut pemisahan mana bagian Hijir Ismail yang termasuk wilayah Ka’bah dan mana yang tidak termasuk, melainkan menyebutnya bahwa Hijir Ismail adalah bagian dari Ka’bah.Wallahu ‘alam.

Tawaf, dinilai tidak sah apabila dilakukan hanya dengan mengitari Ka’bah; dalam artian bangunan 4 persegi itu saja, tanpa mengitari Hijir Ismail. Barangsiapa yang melakukan shalat di Hijir Ismail, maka sesungguhnya ia telah shalat di dalam Ka’bah. Suatu hari Aisyah berkata, “ Aku ingin sekali masuk ke Ka’bah dan shalat di dalamnya, Rasulullah SAW lalu menarik tanganku dan membawanya ke dalam Hijir Ismail, sambil berkata ‘Shalatlah di dalamnya jika engkau ingin masuk Ka’bah, karena ia merupakan bagian dari Rumah Suci ini.”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Aisayah berkata :” Tidak peduli aku shalat di Hijir Ismail atau di Ka’bah.

Seorang kawan mengirim pesan singkat lewat telefon selulernya, “Di tengah-tengah waktu tawaf, bolehkan kita shalat di Hijir Ismail.” Saya jawab,” Tidak boleh, karena Hijir Ismail adalah bagian dari Ka’bah. Kalau mau selesaikan dulu tawaf dan Sa’i, baru masuk Hijir Ismail dan shalat di dalamnya atau shalat dulu di Hijir Ismail, baru kemudian tawaf.” Perlu diketahui bahwa shalat di Hijir Ismail adalah shalat yang berdiri sendiri, tak ada kaitannya dengan tawaf. Jadi, kita bisa shalat di situ diluar waktu tawaf bahkan ketika suatu hari, misalnya, kita berkunjung ke Masjidil Haram bukan dalam rangka haji, bukan pula untuk umrah, tetapi untuk keperluan lain, boleh kita shalat sunnah di Hijir Ismail ini.

Rasulullah SAW pernah berkata kepada Abu Hurairah r.a, “Wahai Abu Hurairah, sesunggunhnya di pintu Hijir Ismail ini ada malaikat yang selalu berkata pada setiap orang yang masuk dan shalat dua rakaat di Hjir Ismail, ‘Kau telah diampuni dosa-dosamu, mulailah dengan amalan yang baru’. Juga di pintu satu lagi ada malaikat yang selalu berkata pada setiap orang yang keluar setelah shalt di Hijir Ismail, ‘Kau telah mendapatkan rahmat, kau ummat Muhammad dan kau telah menjadi orang yang bertaqwa’.”

Betapa utamanya Hijir Ismail ini. Karenanya, sayang kalau kita yang datang dari jauh untuk melaksanakan haji, tetapi tidak berkesempatan shalat di sini. Seperti disebutkan di atas bahwa do’a di Hijir Ismail dan apalagi di bawah pancuran emas termasuk do’a yang dikabulkan. Maka, apabila Anda berkesempatan masuk ke Hijir ismail, jangan lewatkan fasilitas kemudahan makbulnya do’a di tempat ini. Selama di tanah suci sangat banyak orang yang bisa shalat di sini, tetapi juga tidak sedikit yang tidak berkesempatan shalat di dalamnya. Saya sangat menganjurkan kepada Anda yang hendak pergi ke Tanah Suci -setelah sampai di sana dan masuk Masjidil Haram, sebelum berusaha masuk ke Hijir Ismail -untuk shalat dulu di Makam Ibrahim. Seusai shalat, berdo’alah dengan khusyu; minta kepada-Nya agar dimudahkan untuk bisa masuk dan shalat di hijir Ismail. Insya Allah, Dia akan mengabulkannya.

Pancuran Emas

Di dalam area Hijir Ismail bagian depan, pada bagian atas Ka’bah, terdapat talang air terbuat dari logam berlapiskan emas. Orang Jawa Barat menyebutnya sebagai Pancuran Emas (pancuran artinya saluran -biasanya dalam bentuk pipa atau sejenisnya- tempat air keluar, berada di atas permukaan tanah). Pancuran ini dibuat untuk memperlancar peredaran air dari atap Ka’bah ketika proses pencucian maupun untuk menghindari genangan air apabila turun hujan. Semula, Ka’bah tidak mempunyai atap, tetapi ketika renovasi oleh kaum Quraisy waktu itu, dibuatlah atap Ka’bah dan sekaligus dibuat juga pancuran ini. Para ulama salaf menambahkan bahwa do’a di Hijir Ismail di bawah pancuran emas termasuk do’a yang dikabulkan.

Apabila Anda sudah berada dalam area Hijir Ismail, pada bagian depan, tepat di bawah pancuran ini, Anda akan mendapatkan kepadatan populasi jamaah yang luar bisa. Mereka berebut untuk berdo’a di bawah Pancuran Emas. Banyak jamaah meratap, menangis, mengiba pada Ilahi. Tetes-tetes air mata jamaah, mengalir tanpa henti. Alangkah nikmatnya!

Maqam Ibrahim

Maqam artinya tempat berdiri. Maqam Ibrahim adalah batu yang dijadikan tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Ka’bah. Dengan berpijak di batu itulah, Ibrahim meletakkan dan merekat batu-batu yang disodorkan Ismail a.s. untuk meninggikan tembok dinding Ka’bah. Setiap kali bangunan bertambah tinggi, bertambah tinggi pula posisi batu pijakan itu. Jadi, ketinggian batu pijakan ini menyesuaikan dengan ketinggian bangunan, sehingga memudahkan dalam pekerjaan ini. Kini, pada batu itu, kita bisa melihat dua buah lubang memanjang yang merupakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim as.

Maqam Ibrahim berada di sebelah timurlaut dari Ka’bah, padanya dibuat sejenis rumah atau lebih mirip sangkar burung terbuat dari rangka besi dengan kaca tebal, sehingga lebih terlindungi dari hal-hal yang mungkin bisa menyebabkan kerusakannya. Bangunan rumah atau sangkar itu, juga memudahkan jamaah untuk melihat dari jauh, apakah ia berada pada posisi lurus dengan maqam atau tidak. Ketika tawaf atau pun sedang tidak tawaf, jamaah dapat dengan tidak terlalu sulit melihat bekas pijakan Nabi Ibrahim ini. Sejarawan Thahir al-Kurdi (wafat 1400 H) menyimpulkan bahwa jejak telapak kaki di maqam tersebut masing-masing memiliki kedalaman 10 cm dan 9 cm, panjang 22 cm dan lebar 11 cm. Tidak tampak bekas jari-jari kaki.

Ahmad Junaidi (2004) dan Iwan Gayo (2000) mengutip keterangan dalam kitab Akhbar Makkah menyebutkan, bahwa setelah Nabi Ibrahim menyelesaikan pembangunan Ka’bah, beliau diperintahkan untuk memanggil semua manusia untuk berhaji ke Baitullah. Ketika memanggil umat manusia untuk berhaji dan ziarah ke Baitullah itulah Nabi Ibrahim menggunakan batu itu untuk naik ke atas hingga melebihi ketinggian gunung-gunung yang ada di Makkah dan sekitarnya. Dengan kehendak Allah suara Nabi Ibrahim dapat didengar oleh semua manusia yang ada dan yang akan ada sehingga mereka menjawab, “Ya…ya…aku penuhi panggilanmu.”

Salah satu keistimewaan Maqam Ibrahim –yang juga merupakan keistimewaan Hajar Aswad- adalah adanya pemeliharaan Allah agar tidak disembah oleh orang-orang musyrik Jahiliyyah. Menurut catatan sejarah, ketika banyak orang pada Zaman Jahiliyyah menyembah berhala-berhala -antara lain batu-batu—tetapi tidak ada yang menyembah kedua batu ini. Kedua batu ini juga sama-sama diturunkan Allah dari surga dan kelak akan ditarik kembali ke surga.

Maqam Ibrahim juga menjadi salah satu tempat yang dianjurkan untuk shalat dan berdo’a, karena ia merupakan salah satu tempat yang makbul. Umar bin Khaththab pernah mengusulkan kepada Rasulullah saw. agar menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya : “Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai mushalla (QS. Al-Baqarah : 125).

Shafa dan Marwah
Shafa adalah bukit kecil (saya kira disebut bukit karena sedikit lebih tinggi dari tanah sekitarnya yang berupa permukaan tanah datar padang pasir; dalam terminologi Indonesia yang kaya dengan alam pegunungan, rasanya agak sulit mengelompokkan lanscap “setinggi” ini disebut bukit, kita mungkin cukup menyebutnya batu saja) sebelah selatan Ka’bah. “Bukit” ini menjadi titik awal pelaksanaan Sa’i. Sedangkan Marwah adalah juga bukit kecil di sebelah uata Shafa, berjarak sekitar 450 meter dari Shafa, dan menjadi titik akhir pelaksanaan sa’i. Antara kedua bukit itulah dilakukan lari-lari kecil, sai, sebanyak tujuh kali. Hal ini seperti pernah dilakukan untk pertama kalinya oleh Siti Hajar, istri Ibrahim as., ketika berlari-lari mencari air untuk Ismail, bayinya yang kelaparan dan kehausan di tengah padang pasir yang panas dan gersang.

Shafa dan Marwah merupakan salah satu dari syiar-syiar Allah. Allah swt. Berfirman, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian daro syiar-syiara Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Secara ringkas sejarah tentang ini diuraikan di bawah ini.

Setelah Nabi Ibrahim as. menempatkan Siti Hajar dan Ismail di dekat Ka’bah, dan meninggalkan tempat air dan tas kulit berisi kurma untuk istri dan anaknya, beliau langsung berangkat kembali ke Syam. Ketika Ibrahim semakin jauh berjalan, Siti Hajar semakin cemas mengenai apa yang akan terjadi. Ia kemudian meninggalkan Ismail sebentar, berdiri, menyusul Ibrahim sambil berkata, “Wahai suamiku, akan kemana engkau dan mengapa aku dan anakku kau tinggalkan di sini, tempat yang kosong tidak ada apa-apanya?”

Ibrahim tidak menghentikan perjalanannya, tidak menengok, dan tidak pula mengatakan sepatah kata pun. Mungkin kepedihannya terlalu dalam sehingga ia tidak bisa berbicara saat itu. Siti Hajar tetap mengejarnya sambil berteriak, ‘Wahai Ibrahim, engkau akan pergi ke mana? Apakah kamu akan meninggalkan kami di lembah ini, dimana tidak ada seorang pun teman atau apa pun juga?”. Ibrahim terus berjalan. Karena tidak mendapat tanggapan, Siti Hajar meninggikan suaranya untuk bertanya kepada Ibrahim, “Apakah Allah memerintahkanmu berbuat demikian?” Setelah mendengar pertanyaan ini, Ibrahim berhenti dan mengiyalan pertanyaan itu. Allah telah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di lembah tandus ini.

Setelah mendapat jawaban dari Ibrahim, Siti Hajar hanya punya satu pertanyaan tambahan, “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?” Jawaban Ibrahim jelas dan langsung kepada intinya, “Aku menitipkanmu pada perlindungan Allah.” Pada saat itu, terlepas dari berbagai pertanyaan tak terjawab dalam benak Hajar, keimanan dan kepatuhan Siti Hajar ternyata lebih dominan pada dirinya. Ucapan selamat tinggal kepada suaminya itu singkat, meski mengandung banyak makna mengenai sifat dan komitmennya kepada Allah, “Aku ridha bersama Allah.”

Siti Hajar kemudian berbalik dan kembali kepada bayi, Ismail, yang ia tinggalkan sesaat ketika mengejar Ibrahim. Siti Hajar, seorang ibu yang belum lama melahirkan, ditinggal suaminya, di suatu lembah yang kering kerontang. Entah untuk berapa lama. Ia hanya berdua dengan bayinya. Tiada orang lain.

Ibrahim terus berjalan meninggalkan lembah Makkah. Perjalanan yang sangat sulit baginya. Setiap langkah terasa berat baginya. Sangat mungkin Ibrahim merasakan kakinya terasa berat, hatinya pedih, dan matanya menangis. Sebelumnya, Allah telah berkali-kali menguji Ibrahim dan sepanjang ujian itu Ibrahim senantiasa berperilaku saleh dan mentaati perintah Allah. Ujian meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di lembah tandus dan sepi, boleh jadi merupakan ujian yang terasa paling berat bagi Ibrahim.

Ketika Ibrahim sudah berjalan cukup jauh hingga tak lagi terlihat oleh Siti Hajar, ia berbalik untuk memandang Makkah. Ia berdiri di sana, menengadahkan kedua tangannya, dan menyebut nama Allah. Ia mempercayakan dan menitipkan Siti Hajar dan Ismail di bawah perlindungan Allah, dan ia memohon kepada Allah akan keselamatan Siti Hajar dan Ismail.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “ Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkan aku beserta aak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cederung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yag kami lahirkan; dan tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) do’a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’a kami. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pda hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim:35-41)

Setelah kembali kepada anaknya yang masih bayi itu, Siti Hajar membuka tas kulit yang berisi kurma yang ditinggalkan Ibrahim. Ia memakan kurma itu. Ia juga membuka kantong air dan meminumnya. Ia harus menyusui Ismail, sehingga ia perlu memperbanyak air susunya. Kurma dan air menopang Siti Hajar dan air susunya untuk sementara waktu, Ismail pun mendapat perawatan yang baik. Tapi, suhu di Makkah sedang panas, dan dalam lingkungan seperti itu, persediaan air Siti Hajar tidak bertahan lama. Akhirnya, air pun habis, dan tak lama kemudian, kemampuan Siti Hajar untuk menyusui Ismail pun menurun. Ismail menangis karena lapar dan haus. Karena tak tahan

Menyaksikan penderitaan Ismail, Siti Hajar segera meninggalkan tempat itu untuk mencari bantuan. Mungkin akan ada rombongan yang akan melewati Makkah.

Siti Hajar bangkit dengan terhuyung-huyung dan mengamati bukit terdekat dengan perasaan cemas. Perlahan-lahan, di tengah udara Makkah yang panas, ia memaksakan tubuhnya yang kekurangan air untuk berjalan ke bukit dan meninggalkan Ismail sendirian. Setelah tiba di kaki bukit yang bernama Shafa, ia merangkak naik dengan harapan akan menemukan rombongan kafilah yang lewat dan mendapatkan air. Ia melepaskan pandangannya ke arah yang jauh, ke kiri dan ke kanann kalau-kalau ada orang yang dapat dimitai pertolongan. Namun, setelah lelah memandang ke segala arah, ia tidak menjumpai seorang pun. Siti hajar kemudian menyeret tubuhya yang lelah menuruni permukaan batu yang licin dan tak rata ke arah lembah.

Mungkin, Siti hajar semula berniat pergi dan duduk bersama Ismail ketika mencapai lembah. Tapi setelah lepas dari Shafa, kasih sayangnya yang besar kepada Ismail memaksa badannya untuk berjalan terus mencari tanda-tanda kehadiran orang lain. Ia menyelempangkan bajunya dan mulai lari tergesa-gesa melintasi lembah. Namun, meski ia memiliki semangat yang besar, ia tidak mampu berlari jauh dan larinya segera berubah menjadi langkah limbung. Namun, entah bagaimana, dia mampu berjalan sekitar 450 meter dari Shafa ke Marwah.

Sebagaimana di Shafa, Siti Hajar menjangkau ke dalam batinnya untuk menemukan cadangan kekuatan agar bisa mendaki Bukit Marwah. Setelah mencapai puncak Marwah, ia kembali mengamati lembah dan cakrawala untuk mencari tanda-tanda kehidupan lain. Setelah tak menemukan apa pun, ia kembali menuruni Marwah. Dalam perjalanan menuju Ismail, Siti Hajar kembali merasakan semangat yang besar sehingga ia bisa berlari. Sebagaimana sebelumnya, ia tak bisa berlari lama. Tapi, kini ia relatif lebih dekat ke Shafa, dan ia merasa dirinya menaiki permukaan berbatu itu sekali lagi. Setelah mampu mencapai puncaknya, Siti Hajar hanya melihat lembah yang tandus dan hampa. Sekali lagi, Siti Hajar menuruni permukaan Shafa yang berbatu dan licin.

Setelah sampai di dasar lembah, Siti hajar kembali merasakan semangat besar, sama seperti pernah dialami dua kali sebelumnya. Ia pun kembali ke puncak Marwah walau pun tak membawa hasil, dan dia lalu menuruni Marwah. Demikian seterusnya hingga 7 kali, yakni sekali dari Shafa ke Marwah (1); dari Marwah ke Shafa (2); Shafa ke Marwah (3); Marwah ke Shafa (4); Shafa ke Marwah (5); Marwah ke Shafa (6); Shafa ke Marwah (7). Inilah yang kemudian dikenal sebagai Sa’i: lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah. Mengenang usaha Siti Hajar mencari air untuk bayinya yang kehausan, di tengah lembah padang pasir nan gersang.

Setelah Siti Hajar merasa bahwa usahanya telah maksimal, ia kembali mendapati bayinya, Ismail. Kemudian datanglah Malaikat Jibril menghentakkan tanah sehingga memancarlah air yang berlimpah yang kemudian dimanfaatklan Siti Hajar dan Ismail untuk minum. Air itu kelak dikenal sebagai Air Zamzam

Saat ini Shafa dan Marwah, demi mengenang usaha dan kasih ibu untuk anaknya, jamaah haji atau umrah, melakukan lari-lari kecil antara 2 bukit itu, sejumlah seperti yang Siti Hajar lakukan, 7 kali.

Peristiwa Sejarah yang Berkaitan dengan Shafa
Beberapa peristiwa bersejarah terjadi di bukit Shafa, sebagai diantaranya diuraikan di bawah ini. Bukhary meriwayatkan dari ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat:

“Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang dekat.” (QS. Asy-Syuara:214)

Nabi saw. naik ke Bukit Shafa dan menyeru:”Wahai Bani Fahr! Wahai Nani Addi!” Maka berkumpullah orang-orang Quraisy. Mereka yang berhalangan mengutus wakilnya, untuk memastikan apa yang terjadi. Di antara mereka datang pula Abu Lahab. Nabi lalu berkata,” Bukankah aku telah memperlihatkan pada kalian semua, bahwasannya aku telah memberitahukan ada seseorang di lembah ini yang ingin merubah kehidupan kalian. Apakah kalian semua mempercayaiku?” Mereka serentak menjawab, “Kami tidak pernah mendapatimu kecuali seorang yang jujur.” Maka Nabi pun kembali berkata, “Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan kepadamu dari siksa yang pedih.” Mendengar itu semua, Abu Lahab berkata, “Celakalah kau! Untuk inikah engkau kumpulkan kami?” Setelah itu turunlah ayat:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelaj dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ad tali sabut.” (QS. al-Lahab:5)

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata bahwa orang-orang Quraisy datang kepada Nabi dan berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafa ini emas bagi kami, sehingga akami akan beriman.” “Apakah kalian akan melakukannya?”, seru Nabi. Lalu mereka menjawab: “Ya”. Kata Ibnu Abbas, setelah itu Nabi memohon sehingga datanglah Malaikat Jibril sambil berkata, “ Sesungguhnya Tuhanmu memberi salam kepadamu. Jika Aku menghendakinya, niscaya dijadikannya bukit Shafa itu emas buat mereka. Dan barangsiapa dari mereka ingkar setelah itu, maka Aku akan menyiksanya dengan siksa yang belum pernah Aku timpakan kepada seluruh alam raya ini. Dan jika Aku menghendaki, niscaya Aku bukakan bagi mereka pintu taubat dan rahmat.” Lalu Nabi menjawab, “Aku ingin pintu taubat dan rahmat.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa saat itu turunlah ayat, “Sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tada-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al_isra: 59)

Suatu ketika, Abu jahal berjalan di Shafa melewati Nabi saw., lalu menyakiti dan memukul kepela beliau dengan batu hingga terluka dan mengeluarkan darah. Ketika Hamzah bin Abdul muthalib mengetahui hal itu, ia langsung mendatangi Abu Jahl yang ketika itu sedang berada di tempat perkumpulan Quraisy, dekat Ka’bah. “Bagaimana engkau mengumpat keponakanku sementara aku dalam agamanya?” kata Hamzah. Ia kemudian memukul Abu Jahal dengan busur panah hingga menyebabkan luka yang cukup parah.

Pada waktu pembebasan Makkah, Nabi saw. Berdiri di atas bukit Shafa dan bersabda, “Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan, maka amanlah dia. Barangsiapa meletakkan senjatanya, maka amanlah dia.” Kemudian orang-orang Anshar saling berbisik di antara mereka bahwa Nabi telah bersikap lembah lembut kepada keluarganya dan mencintai kampung halamannya, maka mungkin sekarang Nabi akan menetap di Makkah dan tidak akan kembali ke Madinah. Kemudian Nabi akan memindahkan tempat kedudukannnya ke kota Makkah. Tanah tumpah darahnya, berkumpul dengan dengan bangsa dan sukunya, serta kerabat dan saudaranya. Berita itu sampai kepada Rasulullah dan beliau berkata, “Hai orang-orang Anshar, apa yang kamu perbincangkan?” Nabi saw. lalu bersabda, “Aku berlindung kepada Allah. Tempat hidupku di tempat hidupmu dan tempat matiku di tempat matimu.” Dengan ucapan Rasul ini, puaslah kaum Anshar.

Bukit Shafa menjadi saksi bagi orang-orang yang dahulunya mengusir, menyakiti dan memerangi Nabi ketika di Makkah, pada waktu fath Makkah, mereka berkumpul di sekitar bukit Shafa, berbaiat masuk Islam.

Bersambung…………………….

Categories: Ibadah Haji | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: