Catatan Ringan Dari Tanah Suci (Episode-4)

Haji adalah Napak Tilas Sejarah

Perjalalan haji adalah perjalanan napak tilas sejarah. Sejarah Nabi saw. dan para nabi sebelumnya, serta sejarah para sahabat. Perjalanan haji akan terasa kering kalau kita tidak membaca sejarah. Disamping sering mendengar orang-orang yang mendapat suatu kenikmatan yang dia tak dapatkan di tempat lain, tak jarang saya mendengar kesan orang yang baru pulang dari tanah suci bahwa mereka merasa biasa-biasa saja.

Tak ada yang istimewa. Tak ada derai air mata bahagia melihat Ka’bah. Tak ada tangis kerinduan ketika menziarahi makam kekasih di Masjid Nabawi. Sangat boleh jadi, ada sesuatu yang mis pada kawan-kawan yang pergi haji tetapi tidak mendapatkan kesan mendalam dari ibadah haji tersebut. Barangkali, -suudzon saya-, mereka sedikit alfa sejarah.

Sejarah Nabi dan para sahabatnya yang menjadi pemegang peran utama sejarah Makkah dan Madinah. Kealfaan ini menyebabkan kekosongan dalam fikiran dan hati, ketika kita datang di kedua kota suci ini. Tanpa koneksitas sejarah, sangatlah sulit kita bisa faham dan nyambung dengan apa yang kita hadapi, kita ziarahi di haramain ini. Karenanya, dalam catatan ringan ini, saya senantiasa mengaitkannya semua obyek yang diziarahi dengan sejarah.

Terutama bagi yang kebetulan tidak cukup waktu untuk membaca buku-buku sejarah Rasul dan para sahabatnya, juga bagi yang pernah membacanya tapi sudah lama sekali dan agak-agak lupa, saya ingin membuka tulisan ini dengan –sekali lagi- sejarah, sebagai penghantar ke obyek bahasan. Dengan itu, semoga tulisan ini menjadi alat penyambung ketika pembaca, suatu hari, pergi haji.

Semoga bermanfaat.Makkah dan Sekitarnya Yang Syarat SejarahMakkah Sebagai Tanah HaramAllah telah mensucikan seluruh kawasan Makkah dan sekitarnya, sebagai tanah yang disucikan Allah sejak diciptakannya bumi hingga kiamat nanti. Dikisahkan bahwa Malaikat Jibril memberi tahu Nabi Ibrahim tentang batas-batas tanah suci dan menyuruhnya untuk menandainya dengan menancapkan batu.

Ibrahim pun melaksanakannya. Karena peristiwa itulah, Ibrahim disebut-sebut sebagai orang pertama yang menandai batas-batas kawasan suci Makkah, yaitu batas yang memisahkan antara daerah yang suci, Makkah, dengan daerah sekitarnya. Setelah pembebasan Makkah (fath Makkah), Rasulullah saw mengutus Tamim ibn Asad al-Khazai untuk memperbaiki dan memperbaharui tanda-tanda tersebut. Pada masa para khalifah sepeninggal Rasulllah saw., pekerjaan ini terus dilanjutkan. Tanda-tanda batas tanah suci itu keseluruhannya berjumlah 943 buah yang ditancapkan di atas gunung, bukit, lembah, dan tempat-tempat yang tinggi. Panjang kawasan Tanah Suci Makkah 127 km; luas kurang lebih 550 km2. Di kawasan ini Allah telah menjadikannya sebagai tempat kembali (matsabah), tempat bertemunya seluruh manusia, dan sebagai tempat yang aman. Adapun sebagian dari tempat-tempat yang membatasi Makkah sebagai tanah haram adalah sebagai berikut: Hudaibiyah, terletak di sebelah barat, berjarak sekitar 22 km dari Makkah. Arafah, terletak di sebelah timur; tepatnya pada arah antara timur dan tenggara, berjarak sekitar 22 km dari Makkah. Wadi Nakhlah, terletak di utara, tepatnya pada arah antara utara dan baratlaut, berjarak sekitar 16 km dari Makkah. Tan’im, terletak di baratlaut, berjarak 7,5 km dari Makkah. Jiranah, terletak di utara; antara Wadi Nakhlah dan Tan’im, berjarak 22 km dari Makkah. Adlat Laban (Aqisyiyah), terletak di selatan, berjarak 16 km dari Makkah. “Hudaibiyah?” Ya, Hudaibiyah. Bagi peminat sejarah Islam, Hudaibiyah adalah suatu tempat yang tidak mungkin luput dari ingatan. Ia merupakan salah satu tonggak sejarah menuju, kelak, jatuhnya Makkah ke tangan Rasulullah dan para sahabatnya pada futhuh Makkah. Hudaibiyah, saat itu, menjadi kunci strategi berbalik, kembali “menyerang”, dan, menang! Saya tidak ingin melewatkan peristiwa sejarah yang teramat penting, yang direkam oleh tempat bersejarah ini, Hudaibiyah. Ceriteranya sangat panjang, tapi saya akan berusaha, sebisa mungkin, memendekkannya. Mudah-mudahan, tidak mengurangi nilai sejarah yang dikandungnya. Dan, karena Hudaibiyah ini berhubungan dengan bahasan Tanah Haram, saya ingin mendahulukannya sebelum menulis lebih banyak tentang Tanah Haram itu sendiri atau Makkah pada umumnya. Saat itu, hari Senin bulan Dzulhijah, Rasulullah beserta para sahabatnya, dan sedikit kaum musyrikin Madinah, berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan haji. Rombongan berjumlah sekitar 1500 orang. Sebelum berangkat, seperti biasanya, Nabi menyerahkan kepemimpinan di Madinah selama beliau meninggalkannya, kepada salah seorang sahabatnya (dunia perkantoran saat ini, menyebut apa yang dilakukan Nabi sebagai penunjukan pejabat sementara, Pjs.). Sahabat yang pilih saat itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Sesampainya di Zul Hulaifah, beliau memerintahkan pengikutnya untuk memakai pakaian ihram. Masing-masing mulai berniat hendak mengerjakan umrah, sambil membaca talbiyah. Nabi kemudian mengutus Basyar bin Sufyan untuk membaca situasi Makkah dan penduduknya dan bagaimana reaksi mereka atas rencana haji Rasulullah dan sahabatnya ini. “Ya Rasulullah, Basyar melaporkan, “kaum Quraisy telah mendengar berita keberangkatan engkau dari Madinah. Mereka sekarang telah keluar dari Makkah dengan sangat marah. Mereka hendak menghancurkan engkau. Sekarang ini, mereka telah sampai di Zi Thuwan. Mereka berjanji dengan nama Allah bahwa engkau sekali-kali tidak akan diperkenankan masuk ke kota Makkah. Barisan kuda yang dipimpin oleh Khalid bin walid sudah diperintahkan supaya berangkat ke Qura’il Ghamim.” Dengan tenang, Rasulullah mendengarkan laporan Basyar, kemudian beliau bersabda, “Oh, kasihan kaum Quraisy. Sesungguhnya mereka telah dilumpuhkan oleh peperangan. Apakah mereka tidak lebih baik membiarkan saja antara saya dan bangsa Arab lain? Jika mereka (bangsa Arab lain) telah membahayakan saya, yang demikian ini yang mereka inginkan. Jika Allah memberi kemenangan kepada saya atas mereka, maka mereka memeluk Islam dengan megah. Dan , jika mereka tidak mau mengikutinya, maka mereka memerangi karena mempunyai kekuatan. Apakah kaum Quraisy menyangka bahwa dengan perbuatan yang demikian itu, saya akan mundur begitu saja? Demi Allah, saya tidak akan berhenti berjuang atas dasar saya diutus Allah karenanya, sehingga Allah memberi kemenangan, atau sampai batang leher saya terpenggal binasa.” Penduduk Makkah menyangka, kedatangan Rasulullah beserta para sahabatnya ke Makkah, adalah untuk menyerang. Mereka menjadi gusar. Padahal Nabi datang bukan untuk berperang, tetapi untuk melaksanakan haji. Orang-orang Makkah itu, kemudian bersepakat untuk menghalang-halangi kedatangan Nabi dan para sahabatnya. Mereka menyiapkan angkatan perang. Nabi saw. beserta para sahabat melanjutkan perjalanan melalui jalan yang tidak biasa ditempuh kebanyakan orang, hingga sampai di suatu lembah dan beristirahat di sana. Di tempat itu, ternyata tidak ada air. Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan kita berhenti di tempat ini, padahal di sini tidak ada air yang kita butuhkan selama kita di sini! Mendengar itu Nabi saw. kemudian mengambil anak panah. Anak panah itu diberikan kepada salah seorang sahabat tadi. Orang itu diperintahkan untuk turun dengan membawa anak panah itu ke dalam sebuah perigi yang kering, tidak berair. Anak panah itu ditancapkan ke dalam pasir yang ada di dalam perigi. Seketika itu juga, air memancar dari dalamnya, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama di sana. Tempat singgah ini, dalam sejarah, dikenal sebagai “Hudaibiyah”. Nama ini berasal dari nama sumur atau perigi yang ada di tempat itu, yang selanjutnya digunakan sebagai nama desa tersebut. Kaum Quraisy mengirim tiga utusan secara beturut-turut, menanyakan apa maksud kedatangan Rasulullah saw. ke Makkah. Nabi saw. menyampaikan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk berhaji. Para utusan pun menyampaikan hal itu kepada para pembesar Makkah yang mengutusnya. Para pembesar Makkah itu, tetap tidak mempercayai apa yang para utusannya sampaikan, sesuai yang Nabi sampaikan. Mereka tetap berprasangka Nabi akan menyerang. Akhirnya mereka mengirim utusan keempat, Urwah bin Masud. Urwah berkata, “Ya Muhammad, engkau telah mengumpulkan atau menghimpun beberapa macam jenis manusia, kemudian engkau telah datang dengan mereka itu kepada ahli famili dan suku engkau sendiri, untuk menghancurkannya bersama-sama mereka. Sesunggguhya mereka itu telah memakai kulit harimau, hendak mengamuk dan menerkam engkau. Mereka berjanji kepada tuhannya bahwa engkau tidak boleh masuk ke Makkah dengan kekerasan selama-lamanya.” Urwah kemudian melanjutkan, “Demi Allah, kemungkinan besar mereka (para orang yang telah engkau kumpulkan) itu besok pagi bubar meninggalkan engkau dan menyerahkan engkau kepada musuh-musuh engkau, yang terdiri dari ahli famili engkau sendiri. Tatkala Urwah bin Mas’ud berkata di hadapan Nabi saw itu, Abu Bakar ash-Shiddiq yang duduk di belakang Nabi selalu mendengarkan. Dan, ketika mendengar perkataan terakhir Urwah, Abu bakar sangat marah. Ia lalu berkata,” Isaplah olehmu kelentit patung berhala Latta! Apakah kami akan bubar meninggalkan beliau?” Abu Bakar yang sebenarnya adalah seorang penyabar dan penyantun, terpaksa berkata kasar karena tidak tahan mendengar perkataan Urwah, yang seakan menuduh kaum muslimin akan bubar meninggalkan Nabi saw. apabila telah menghancurkan kota Makkah dan segenap penduduknya. Urwah kemudian melanjutkan pembicaran dengan Nabi saw. tentang maksud kedatangan beliau beserta para sahabatnya ke Makkah. Nabi menjelaskan dengan tegas bahwa kedatangannya itu tidak ada maksud lain kecuali hendak melaksanakan ibadah haji semata. Selama masa perundingan dengan pihak Nabi saw, Urwah senantiasa memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di sekitar Nabi saw. dan pengikutnya, terutama gerak-gerik para sahabat yang selalu taat dan patuh kepda Nabi. Urwah melihat, apabila Nabi saw. berwudhu, berebutlah mereka mengambil air sisanya; apabila Nabi meludah, berebutlah mereka membersihkannya; apabila beliau memanggil para sahabat, bersegeralah mereka datang menghadapkannya; apabila beliau memerintahkan suatu pekerjaan, dengan segera mereka mengerjakannya; apabila diajak bicara oleh beliau, para sahabatnya menjawab dengan suara lembah lembut; apabila mereka berada di hadapan beliau, tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepalanya dan menajamkan pandangan matanya, karena sangat memuliakan beliau; dan apabila ada sehelai rambut beliu gugur, berebutlah mereka memungutnya, karena horamtnya kepada beliau. Semua peristiwa itu diperhatikannya oleh Urwah. Urwah sangat takjub melihat kebesaran pribandi Nabi saw. di tengah para sahabatnya. Urwah bin Mas’ud lalu kembali ke Makkah dengan membawa keterangan yang didapat dari Nabi saw.. Disamping menyampaikan laporan dari maksud kedatangan Nabi saw. bersama para sahabatnya ke Makkah, Urwah menyampaikan juga kesan-kesan yang dilihat selama kunjungannya di tempat Nabi saw. itu. Ia berkata di muka para pembesar Quraisy yang mengutusnya, “Wahai para kawan pembesar, saya pernah datang kepada Kisra (Raja Persia) di kerajaannya; kepada Caesar (Raja Romawi) di kerajaannya, dan kepada Najasyi (Raja Habsyi) di kerajaannya. Tetapi, demi Allah, saya belum pernah melihat seorang yang dimuliakan dan dihormati oleh kaum dan rakyatnya seperti Muhammad di tengah-tengah kaumnya. Apabila ia berwudhu, maka para sahabatnya berebut menadah air sisa wudhunya. Apabila sehelai rambutnya gugur, berebutlah mereka memungutnya. Mereka itu tidak akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.” Urwah kemudian menegaskan pendiriannya pula, “Sesungguhnya Muhammad itu seorang penyeru kepada kamu denga petunjuk yang lurus, maka hendaklah kamu menerima dan mengikuti seruannya. Perhatikanlah benar-benar yang diserukan oleh Muhammad itu! Sesungguhnya saya ini hanya sengaja memperingatkanmu. Karena itu, pikirkanlah baik-baik sebelum kamu mengambil suatu keputusan terhadapnya. Karena saya mengerti bahwa kamu tidak akan dapat mengalahkan dia selama-lamanya.” Mendengar laporan dari Urwah tersebut, para pembesar Quraisy berkata, “Cukup! Jangan teruskan keteranganmu! Lebih baik kamu diam saja! Sesudah empat kali berturut-turut Nabi saw menerima utusan para pemimpin Quraisy, tetapi belum juga ada tanda-tanda yang menunjukan kaum muslimin diizinkan masuk ke Makkah. Nabi lalu memutuskan untuk mengirim utusan kepada kaum Quraisy yang bernama Khirasy bin Umayyh al-Khuzai. Di perjalanan, unta yang ditumpangi utusan ini ditikam oleh seorang Qurasy, tetapi Khirasy selamat. Dilain pihak, kaum Quraisy mengirim sekitar lima puluh budak mereka ke tempat yang berdekatan dengan tempat pemberhentian kaum muslimin. Mereka memata-matai, dan melakukan sabotase. Mereka, pada setiap malam hari, melemparkan batu-batu dan melepaskan anak panah ke arah kaum muslimin. Pada suatu malam mereka tertangkap dan dihadapkan kepada Nabi saw. agar diberikan hukuman bagi meraka. Tetapi Nabi saw. membebaskan mereka, karena Nabi saw. membuktikan bahwa kedatangan bukan untuk berperang melainkan hanya untuk ibadah haji. Nabi lalu memanggil Umar bin Khaththab untuk menjadi utusan kepada kaum Quraisy. Namum karena alasan pembawaannya yang keras dan tidak adanya Banu Adi (kerabat Umar) yang bisa memberikan perlindungan, Umar keberatan. Nabi memahaminya. Nabi saw. lalu menunjuk Utsman bin Affan, “ Hai Utsman! Sekarang engkaulah yang akan kami utus ke Makah untuk menegaskan maksud kedatangan kita ke Makkah kepada para pembesar Quarisy, terutama kepda Abu Sufyan. Sesudah itu, hendaklah engkau datang mengunjungi kaum muslimin yang sedang dalam kelemahan di kota itu, tidak mempunyai daya kekuatan. Kemudian beritakanlah oleh engkau kepada mereka bahwa kota Makkah tidak akan lama lagi sudah data dibuka (ditaklukan), sehingga tidak akan ada lagi kekhawatiran bagi mereka yang beriman.” Utsman segera berangkat menemui para pembesar Quraisy. Ia terlebih dahulu mendatangi Aban bin said bin al-Ash, saudara sepupu Utsman untuk mendapatkan jaminan. Utsman menyampaikan maksud kedatang Rasulullah dan para sahabatnya kepada para pembesar Quraisy. Mereka tidak menjawab dengan tegas. Mereka berkata, “Hai Utsman, jika engkau mau tawaf. Tawaflah sendirian!” Utsman menjawab, “Saya tidak akan tawaf sendiri sebelum Nabi bertawaf di sekeliling Ka’bah. Kami datang untuk menziarahi Ka’bah, untuk menunaikan ibadah haji di sisinya, dan untuk menyampakan hadiah kami. Jika semuanya telah kami kerjakan dengan seksama, kami akan kembali denganm aman.” Mereka berkata, “Kami sudah bersumpah bahwa kami tidak akan mengizinkan Muhammad masuk ke Makkah pada tahun ini, walau dengan kekuatan senjata sekali pun.” Perundingan berjalan alot, sehingga Utsman tertahan di Makkah yang menyebabkan jadwal kembali Ustman terlambat. Sudah tiga hari tiga malam Utsman tak kujung tiba kembali kehadapan Rasululah dan para sahabatnya. Semua merasa gelisah memikirkan apa yang terjadi pada Utsman. Dalam suasana seperti itu kemudian tersiar kabar bahwa Utsman terbunuh oleh pihak Quraisy. Nabi segera memerintahkan kaum muslimin berkumpul. Nabi bersabda, “Kami tidak akan meninggalkan tempat ini, sebelum kami memerangi kaum Quarisy.” Nabi kemudian mengajak para sahabat yang ada di Hudaibiyah untuk berbaiat. Beliau berdiri di bawah sebuah pohon besar yang ada di tempat itu. Ajakan ini disambut seluruh sahabat dengan semangat. Sebanyak 1400 sampai 1500 sahabat serentak berbaiat kepada Nabi saw., menyatakan sumpah setianya dengan keteguhan iman dan kebulatan tekad untuk menuntut balas kesucian darah Utsman, sampai napas terakhir dan sampai titik darah penghabisan, mereka siap untuk mati dalam pertempuran dan tidak akan undur, setapak pun. Seorang sahabat bernama Sinan bi Abu Sinan al-Asadi adalah orang pertama yang melakukan baiat. Ia berkata, “Ya rasulullah, saya berbaiat kepada engkau atas apa yang ada pada diri engkau.” Nabi saw. Bertanya, “Apa yang ada pada diri saya?”Sinan menjawab,”Saya akan memukul musuh dengan pedang saya di hadapan engkau sehingga engkau diberi kemenangan oleh Allah atau saya mati terbunuh.” Sahabat lainnya kemudian mengikuti seperti apa yang dilakukan Sinan. Setelah semua sahabat melakukan baiat, Nabi kemudian menjabat kedua tangan beliau sendiri untuk membaiat Utsman bin Affan, yang saat itu diberitakan sudah terbunuh, yang seolah Utsman hadir di situ. Semua mengeluarkan pedangnya. Peperangan pasti terjadi. Setiap orang memandang datangnya hari kejayanan atau kehancuran; kemenangan atau kekalahan; hidup atau mati. Allah kemudian menurunkan firman-Nya kepada Nabi saw., “Orang-orang yang berjanji setia (berbaiat) kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka, barangsiapa yang melanggar janjinya, maka akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath:10 dan 18) Peristiwa baiat ini kemudian terkenal sebagai Bai’tur_Ridhwan, perjanjian yang diridhoi Allah. Juga dikenal sebagai Bai’tur Tahtasy_Syajarah, perjanjian di bawah sebatang pohon. Nabi saw. waktu itu menegaskan mengenai orang-orang yang berbaiat di bawah sebatang pohon itu dengan sabdanya, “Tidak akan masuk neraka seorang pun dari orang yang telah berbaiat di bawah sebatang pohon kayu itu.” Dalam suasana yang mencekam itu; saat-saat para sahabat tinggal menunggu komando untuk menyerang, tiba-tiba sampailah berita bahwa Utsman bin Affan masih hidup. Beberapa saat kemudian Utsman muncul di tengah-tengah kau muslimin di Hudaibiyah. Sementara itu, kaum Quraisy terus mengganggu rombongan Nabi saw.. Mereka mengepung tempat kaum muslimin dengan tujuan menakut-nakuti. Mereka melempar-lemparkan batu dan melepaskan anak panah. Seorang sahabat kena panah mereka hingga tewas. Para sahabat akhirnya dapat menangkap para perusuh itu. Sebagian melarikan diri. Akhirnya dicapai kata sepakat untuk melakukan perundingan antara kedua belah pihak. Berikut adalah hasil dari perundingan tersebut : Pertama, pada tahun ini kaum muslimin harus kembali ke Madinah, dan pada tahun depan boleh pergi ke Makkah dengan membawa senjata yang biasa dibawa oleh orang yang dalam perjalanan untuk melakukan umrah dan bermukim di sana selama tiga hari. Kedua, memberi kemerdekaan penuh kepada seluruh bangsa Arab untuk mengadakan persahabatan dengan kaum muslimin atau dengan kaum musyrikin. Maka, bani Khuza’ah berhimpun (bersahabat) dengan kaum muslimin dan bani Bakar berhimpun bersama musyrikin Quraisy. Ketiga, kedua belah pihak dan orang-orang yang bersahabat dengan mereka tidak boleh mengadakan peperangan selama sepuluh rahun. Keempat, setiap orang Quraisy yang datang kepada Rasulullah karena hendak mengikuti Islam, harus dikembalikan kepada mereka (Kaum Quraisy di Makkah); dan setiap orang dari kaum muslimin yang datang kepada mereka (Kaum Quraisy) karena hendak murtad, mereka tidak berkewajiban mengembalikannya kepada Rasulullah. Setelah naskah perjanjian perdamaian ini selesai dirancang oleh pihak Quraisy dan disetujui oleh Nabi saw., sebagian kaum muslimin melihat ketidakadilan dari isi naskah terebut, yakni fasal-4, yang dinilai merugikan pihak Nabi saw. Berkatalah para sahabat kepada Rasulullah , “Maha suci Allah, ya Rasulullah! Bagaimana jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, maka engkau harus menolaknya. Sedangkan, jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka karena hendak murtad, meraka tidak harus mengebalikannya kepada engkau?” Nabi menjawab, “ Barangsiapa pergi dari kita kepada mereka, maka Allah yang akan menahannya; dan barangsiapa dari mereka yang datang kepada kita, lalu kita mengembalikannya kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjadikan keluasan dan keringanan untuknya.” Dengan jawaban itu, mereka pun puas. Tetapi sebagian kaum muslimin masih ada yang merasa belum puas dengan bunyi naskah pada fasal pertama, di antara mereka itu adalah Umar bin Khththab. Ia meloncat mendapatkan Abu Bakar dan terjadilah dialog ini: “Ya Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?”“Betul, Umar, beliau itu Rasulullah.”“Bukankah kita ini kaum muslimin?”“Ya, kita ini kaum muslimin.”“Bukankah mereka (kaum Quraisy) itu musyrikin?”“Ya, betul, mereka itu musyrikin.”“Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”“Ya Umar, tetaplah d tempat duduk engkau karena saya menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah.”“Saya pun menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah.” Karena Umar tidak merasa puas dengan jawaban Abu Bakar, ia pun bertanya langsung kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, bukankah engkau itu Rasulullah?” Tanya Umar“Betul, aku ini Rasulullah,” jawab Rasulullah saw.“Bukankah kita ini kaum muslimin?”“Ya, betul.”“Bukankah mereka itu musyrikin?”“Ya, betul.”“Mengapa kita diberi kerendahan dalam agama kita?”Nabi bersabda, “Aku ini hamba Allah dan pesuruh-Nya. Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.” Setelah mendapat jawan itu, barulah Umar diam, tidak berani melanjutkan pertanyaannya. Bahkan ia berkata, “ Saya senantiasa bersedekah, berpuasa, bershalat, dan memerdekakan budak karena perbuatan saya pada hari itu. Saya khawatir ucapan yang saya katakan kepada beliau ketika saya mengharapkan keadaan perjanjian damai itu supaya baik.” Setelah naskah perjanjian diangap tidak ada masalah lagi, Nabi saw. memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menulis naskah perjanjian damai antara Nabi saw. dan kaum musyrikin Quarisy yang diwakili Suhail bin Amr. Nabi saw. bersabda, “Tulis olehmu, bismillahirrahmanirrahiem.” Suhail menyahut, “Saya tidak mengerti ini, tetapi tulislah, ‘Dengan nama Engkau, ya Allah.” Maka, Nabi saw bersabda, “Tulislah, ‘Dengan nama Engkau, ya Allah.” Ali lalu menuliskan sesuai yang diperintahkan Nabi saw.. Kemudian beliau bersabda kepada Ali, “Tulislah olehmu, ‘Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr.” Suhail tidak senang mendengar kalimat “Muhammad Rasulullah” itu, lalu ia berkata, “Demi Allah, jika kami mengetahui (mengakui) bahwa engkau itu Rasulullah, niscaya kami tidak menghalang-halangi engkau ke Baitullah dan tidak pula kami memerangi engkau. Tetapi tulislah, ‘Muhammad bin Abdullah.” Nabi saw bersabda, “Demi Allah, sesunguhnya aku ini benar-benar Rasulullah, walau kamu mendustakanku sekalipun.” Kemudian beliau bersabda kepada Ali, “Hapuskan tulisan Rasululah itu!” Ali berkata, “Tidak, demi Allah, saya tidak akan menghapusnya.” Nabi bersabda, “Tunjukknlah kepadaku tempatnya.” Ali lalu menunjukan tempatnya, lalu Nabi saw. menghapus sendiri dengan tangannya. Kemudian Ali menulis, “Muhammad bin Abdullah.” Selanjutnya Nabi saw. meminta Ali supaya menuliskan naskah perjanjian seluruhnya, yang berbunyi sebagai berikiut: “Dengan nama Engkau, ya Allah.Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr. Keduanya telah berjanji akan menghindari peperangan atas segala manusia selama sepuluh tahun. Pada masa itu orang-orang memperoleh keamanan dan sebagian mereka atas sebagian yang lain menahan diri (menjaga jangan sampai perang). Barangsiapa dari orang Quraisy yang datang kepada Muhammad dengan tidak seizin walinya, hendaklah ia (Muhammad) mengembalikannya kepada mereka; dan barang siapa dari orang yang beserta Muhammad yang datang kepada orang Quraisy, mereka (kaum Quraisy) tidak berkewajiban mengembalikannya kepada (Muhammad). Di antara kita berkewajiban tahan-menahan. Kedua pihak tidak boleh mencuri dengan sembunyi-sembunyi dan tidak boleh cidera. Barang siapa yang suka masuk dalam pengukuhan Muhammad dan perjanjian, bolehlah ia masuk kepadanya; dan barangsiapa suka masuk dalam pengukuhan Quraisy dan perjanjian mereka, bolehlah ia masuk kepadanya.” Suhail berkata (memberi tambahan naskah itu), “Engkau pada tahun ini harus kembali, maka tidak boleh engkau masuk ke Makkah kepada kami (kaum Quaraisy). Pada tahun depan, kami (kaum Quraisy) akan keluar dari Makkah, maka engkau boleh masuk ke Makkah dengan para sahabat engkau, lalu engkau boleh berdiam di sana selama tiga hari. Engkau boleh membawa senjata orang berpergian itu.” Demikianlah isi naskah perjanjian antara Nabi saw. dan utusan pihak Quraisy, Suhail bin Amr, seorang yang terkenal pandai berunding. Naskah tersebut terdiri dari dua helai, sehelai untuk Nabi dan sehelai lainnya untuk kaum Quraisy. Di bawah tanda tangan para saksi dari kedua belah pihak, tertulis kalimat: “Naskah perjanjian ini ditulis oleh Ali bin Abi Thalib.” Baru saja naskah perjanjian selesai ditulis, Suhail bin Amr belum sampai kembali ke Makkah, dan Nabi saw. belum juga kembali ke Madinah, tiba-tiba seorang pemuda anak Suhail bin Amr, yang bernama Abu Jandal, dengan kedua tangannya terbelenggu, menghadap Nabi saw.. Abu jandal sebenarnya sudah lama memeluk Islam di kota Makkah. Tetapi, karena ia anak seorang pembesar Quraisy, maka ia ditahan dan dikurung di dalam rumahnya dengan kedua tangan diikat. Dia menghadap Nabi degan tujuan mau bergabung ikut serta ke Madinah, karena tidak tahan terhadap perlakuan orang Quraisy terhadapya. Ketika Suhail mengetahui perbuatan anaknya itu, ia mengejar dan menarik kembali ke Makkah. Abu Jandal berterik-teriak minta tolong kepada kaum muslimin, “Apalah saudara-saudara kaum muslimin sampai hati melihat saya dipulanglan kembali kepada kaum musyrikin dan mereka nanti akan memaksa saya untuk meninggalkan agama saya?” Suhail menampar muka anaknya, Abu Jandal, seraya berkata kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad! Inilah satu tanda bukti yang pertama dari buah perbuatan perjanjian perdamaian antara aku dan engkau.” Nabi menjawab, “Betul kamu, Suhail.” Seluruh kaum muslimin yang ada di tempat itu mendengar teriakan Abu Jandal, semua sedih tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena naskah perjanjian yang belum lama disepakati itu tidak mengizinkan untuk membelanya. Abu Jandal terus berteriak, berharap mendapat pertolongan Nabi saw.. Nabi bersabda, “Hai Abu Jandal! Tahanlah dan Tabahkanlah hatimu, karena sesungguhnya Allah akan menjadikan bagimu dan bagi orang yang beserta kamu dari orang-orang Islam yang lemah tertindas itu kelapangan dan kelepasan dari kesulitan. Sesungguhnya kami sudah menyimpulkan suatu perjanjian antara kami dan kaum Quraisy. Kami telah memberikan kepada mereka, atas yang demikian itu, dan mereka telah memberikan perjanjian kepada kami dengan nama Allah. Sesungguhnya kami tidak akan berkhianat kepada mereka.” Demi mentaati perjanjian Hudaibiyah ini, Abu Jandal terpaksa harus kembali ke Makkah mengikuti kemauan ayahnya. Suhail dan kawan-kawannya kembali ke Makkah; Rasulullah dan para sahabat kembali ke Madinah. Sebagian besar sahabat tidak puas dengan isi perjanian itu, karena dinilai merugikan umat Islam. Dengan demikian ibadah haji/umrah tahun itu tidak jadi dilaksanakan karena dihalangi oleh kaum Quraisy tersebut. Dalam perjalanan kembali ke Madinah dari Hudaibiyah, turunlah firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimaman mereka (yang telah ada). Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin, laki-laki dan wanita, ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Juga supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik, laki-laki dan wanita, dan orang-orang musyrik, laki-laki dan wanita, yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahanam. Itulah sejahat-jahat tempat kembali. Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Fath:1-7) “Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Orang-orang yang berjanji setia (berbaiat) kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janjinya, maka akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (al-Fath:8-10) “Orang-orang Badui yag tertinggal (tidak ikut pergi ke Hudaibiyah) akan mengatakan, ‘Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, ‘Maka, siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka Rasul dan orang-orang mukmin tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. Barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang menyala-nyala. Hanya kepunyaan Allah langit dan bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, ‘Biarkanlah kami, niscaya kami akan mengikutimu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami, demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka akan mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.” (al-Fath: 11-15) “Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, ‘Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Jika kamu patuhi (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik. Dan, jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih. Tiada dosa atas orang-orang buta, pincang, dan sakit (apabila tidak ikut berperang). Baragsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.” (al-Fath: 16-17) “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. Serta, harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan itu untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang muknim dan agar Dia menunjuki kamu ke jalan yang lurus. Dan (telah pula menjanjikan kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sekiranya orang-rang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang, kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai sunnattullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan)mu dan (menahan) tanganmu atas mereka. Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Fath: 18-24) “Merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidl Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihannya). Kalau karena tidaklah laki-laki mukmin dan wanita-wanita mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuannmu, (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih itu. Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang muknim. Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Fath: 25-26) “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka, Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkankannya terhadap semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat mereka dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka, tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 27-29) Isyarat yang terkandung surat al-Fath ini bahwa Allah meridhoi mereka yang berbaiat di bawah pohon di Hudaibiyah; bahwa kemudian Rasululah dan para sahabatnya akan memasuki Masjidil Haram dengan aman; dan Makkah ditaklukan dalam waktu yang dekat, terbukti pada peristiwa futh Makkah. Rasululah dengan sepuluh ribu sahabatnya memasuki Makkah. Kaum Quraisy yang selama ini mendzalimi kaum muslimin, tunduk menyerah kepada Rasulullah. Dan, yang tak kalah penting, dengan strategi Rasulullah saw. dan para sahabatnya dari luar Makkah dan Sayyidina Abbas dari dalam Makkah, Makkah ditundukkan dengan mudah dan tanpa pertumpahan darah! Inilah dia, rahasia yang terkandung dalam surat al-Fath yang Allah pernah sampaikan kepada Rasul-Nya melalui mimpinya. Tatkala perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, banyak sahabat protes kepada Rasulullah. Mengapa menyetujui perjanjian yang berat sebelah itu? Perjanjian yang (menurut para sahabat dan kacamata umum) merugikan kaum muslimin itu? Rasulullah mengetahui, dan sahabat tidak mengetahui rahasia di balik itu. Sehingga Hudaibiyah merupakan strategi mengalah (untuk sementara), kembali ke Madinah, dan (setelah beberapa tahun) kembali ke Makkah. Dan, menang! Oh ya, selain kasus Abu Jandal, ada suatu hal penting dalam perjalanan Perjanjian Hudaibiyah ini, yakni beberapa orang yang sudah menganut Islam tetapi masih tinggal di Makkah, kemudian lari ke Madinah. Kasus-kasus ini menyulitkan posisi Rasulullah. Sesuai isi perjanjian tadi, mereka tidak boleh di terima di Madinah. Tetapi kalau mereka dibiarkan kembali ke Makkah, maka akan mengalami penyiksaan dari kaum Quraisy. Salah satu contoh kasus adalah peristiwa Abu Bashir dan beberapa muslimah yang lari ke Madinah. Peristiwa itu perlu dibaca kembali, karena strategi Abu Bashir ini berhasil membangun kekuatan Islam di luar Madinah. Secara singkat, akan diuraikan di bawah ini.Setelah Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, kaum muslimin yang masih tinggal di Makkah semakin banyak mengalami gangguan dari kaum Quraisy. Banyak kaum muslimin yang sudah tidak tahan lagi menerima perlakuan kasar orang-orang Quaraisy. Satu di antara mereka adalah seorang bernama Utbah bin Usaid bin Jariyah atau lebih dikenal dengan Abu Bashir. Ia melarikan diri ke Madinah. Para pembesar Quraisy mengutus dua orang mengantar surat kepada Rasulullah perihal larinya Abu Bashir ini. Rasul berkata kepada Abu Bashir, “Hai Abu Bashir, sesungguhnya kami telah memberikan perjanjian kepada kaum (Quraisy) itu seperti apa yang kamu ketahui, dan tidak sah (boleh) cidera dalam agama kami. Karena itu, sesunggguhnya Allah akan menjadikan bagi kamu dan bagi orang yang beserta kamu dari golongan orang-orang tertindas kelapangan dan kebebasan. Maka, pergilah kembali kepada kaummu.” Singkat ceritera, Abu bashir bersama dua orang yang menjemputnya, meninggalkan Madinah menuju Makkah. Dengan meninggalkan Madinah, Abu Bashir merasa sudah tidak lagi melanggar Perjanjian Hudaibiyah, karena ia sekarang tidak sedang datang kepada Muhammad (sesuai isi perjanjian itu) bahkan sedang meninggalkan Madinah. Di perjalanan ia berhasil membunuh seorang Quraisy. Ia datang kepada Rasulullah di Madinah dan berkata, “Ya Rasulullah, telah sempurna tanggungan engkau, karena engkau telah menyerahkan saa kepada kaum musyrik Quraisy, dan saya telah mempertahankan agama saya daripada saya difitnah atau dipermainkan.” Rasul menjawab, “Pergilah engkau, kemana engkau suka!” Ia kemudian ia lari ke ke suatu daerah yang dikenal sebagai Iesh, termasuk wilayah Zil-Marwah. Daerah itu merupakan daerah yang dilalui kaum musyrikin Quraisy apabila mereka berdagang ke Syam. Tak lama kemudian, Abu Jandal bergabung dan disusul yang lainnya hingga berjumlah tujuh puluh orang. Beberapa hari setelah perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimah di Makkah yang suaminya masih musyrik, juga melarikan diri ke Madinah. Saudara-saudara dan para suami mereka mengejar ke Madinah dan menuntut agar mereka dikembalaikan ke Makkah. Mereka ketakutan dan minta perlindungan Nabi saw.. Ketika itu turunlah ayat, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka. Jika kamumtelah mengetahui bahwa merka (benar-benar0 beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka. Berikanlah kepada (suami-suami mereka) mahar yang telah mereka bayarkan… .“(QS. Al-Mumtahanah:10). Dengan turunnya ayat tersebut jelaslah jaminan keamanan dan perlindungan bagi para wanita tadi dan bebas dari ancaman kaum musyrik Quraisy. Kembali ke pembicaraan mengenai Tanah Haram. Sebelum berceritera aktivitas di kota Haram ini, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu, apa itu kota Haram. Untuk itu, izinkan saya mengutip keterangan al-Ustadz Quraish Shihab tentang kota dan kata Haram ini untuk menghantarkan kita kepada pemahaman bahasan berikutnya. Kata haram bermakna larangan dan pengetatan, sebagai lawan kata dari halal yang antara lain bermakna pelepasan dan penguraian. Makna ini kemudian berkembang menjadi berarti boleh, sedang kata haram berkembang pula maknanya sehingga berarti hormat. Tanah haram adalah tanah atau wilayah yang terlarang bagi para penganiaya, agresor, dan semacamnya, atau wilayah yang mempunyai kehormatan dan harus dihormati. Kata haram yang dirangkaikan dengan tanah atau masjid tidak berarti haram menurut tinjauan fikih, kendatipun makna ini terambil dari akar kata yang sama. Makin terhormat sesuatu, makin banyak pula larangan yang berkaitan dengannya. Bukankah jika kita menghadap seseorang yang dihormati, maka ada beraneka ragam peraturan, larangan, dan ketentuan protokoler yang menyertainya? Adalah tidak sopan atau tidak akan diperkenankan kita menghadap seseorang yang terhormat atau dihormati dengan memakai celana jeans atau bersandal jepit. Lain halnya kalau kita mau bertemu orang kebanyakan. Mengapa timbul berbagai larangan itu? Jawabannya, karena yang akan ditemui adalah seseorang yang terhormat. Jadi, penghormatan menghasilkan larangan-larangan. Kota Haram adalah wilayah yang penuh hormat dan harus dihormati, karena itu ada sekian banyak ketentuan dan larangan yang berkaitan dengannya. Di Tanah haram ini, tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk berburu, mencabut pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan, membuang atau membawa sebagian dari tanah atau batu-batuan keluar dari Tanah Haram. Itulah sebagian dari keistimewaan Tanah Haram, Makkah al-Mukaromah. Sangatlah wajar kalau Allah sendiri bersumpah dengan kota ini: Laa uqsimu bihadzal balad (1) Wa anta hillun_bihadzal balad (2) Salah satu makna dari ayat-ayat di atas adalah : Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah), walau engkau, Wahai Muhammad, tinggal di sana dan dihalalkan oleh kaum musyrikin perlakukan tidak wajar terhadapmu (QS. Al-Balad : 1-2) Ketika Rasulullah hidup di Makkah, kita tahu dari sejarah, bahwa Rasulullah SAW, tidak hanya dilecehkan, melainkan dianiaya oleh kaum musyrikin. Namun, Allah melalui firmannya seakan-akan menegaskan bahwa, “Kota Makkah tetap agung di sisi-Ku, walaupun Nabi yang Kucintai diperlakukan di sana secara tidak wajar, karena itu engkau, wahai Muhammad harus tetap mengangungkannya, walaupun mereka telah melampaui batas dalam penganiayaan terhadapmu.” Apa pesan ayat ini bagi para jamaah haji? Di sana para jamaah boleh jadi mendapatkan perlakuan tidak wajar dari penduduk Makkah atau dari sesama jamaah. Keberadaan manusia yang demikian banyak, dengan berbagai dampaknya, berbenturan kepentingan, cuaca yang tidak ramah, adat istiadat yang berbeda, keletihan fisik, dan sebagainya, semuanya dapat melahirkan ketersinggungan, atau perlakuan tidak wajar, yang sangat potensial menimbulkan kejengkelan. Nah, ayat di atas berpesan bahwa apa pun yang dihadapi atau dialami selama berada Tanah Haram, jangan sampai kekesalan dan kemarahan ditimpakan ke kota suci ini. Bukankah Allah dan Rasul-Nya tetap mengagungkannya, walau penganiayaan terhadap Rasul mencapai puncaknya? Kota Makkah – apa pun yang terjadi padanya- tetap harus dekat di hati setiap muslim. Ini agaknya menjadi sebab mengapa setiap kali Allah merujuk ke Makkah dengan kata balad (kota), selalu digunakan-Nya kata hadza yang berarti ini, yakni kata yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang dekat. Kota ini, memang selalu dekat di hati orang-orang yang beriman, sehingga selalu saja hati mereka cenderung kepadanya, selalu saja –walau telah berulang-ulang berkunjung- masih juga terpaut hati dengannya, sehingga selalu terpanggil untuk kembali ke sana. Itulah salah satu buah do’a Nabi Ibrahim a.s:Faj’al afidatan_minannaasi tahwie ilaihim Jadikanlah hati (sebagian) orang cenderung kepada mereka (QS Ibrahim: 37) Semoga kita diberikan kekuatan dan dimudahkan-Nya untuk menghormati Tanah Haram ini, sehingga dengan pelbagai keutamaan kota ini dan juga ujian yang mungkin datang kepada kita selama menunaikan ibadah haji, semakin mendekatkan kita kepada-Nya dan menjadikan ibadah haji kita semakin bermakna. Amien. Makkah dalam SejarahPosisi, Suhu Udara, dan Curah HujanKota Makkah terletak di bagian barat Saudi Arabia, termasuk wilayah Hijaz, yang dikelilingi gunung-gunung batu tak berpohon. Makkah merupakan kota pertama di dunia, karena Makkah adalah kota yang pertama kali didiami oleh manusia pertama, Adam dan Hawa. Dari sinilah bermula asal-muasal manusia di seluruh dunia. Dan, di sinilah masjid paling utama berada, masjidil Haram beserta Ka’bah. Di sini pula Adam dan Hawa dipertemukan setelah sekian lama berpisah. Di tanah ini, hewan buruan tidak boleh diburu, pepohonan tidak boleh ditebang, tanah dan batunya tidak boleh dibawa keluar daerah ini. Makkah berada di ketinggian sekitar 300 m dari permukaan laut; merupakan lembah memanjang di antara bukit-bukit gersang; membentang dari barat ke timur sepanjang lebih kuang 3 km, dengan lebar sekitar 1,5 km. Jarak dari kota-kota penting di sekitarnya adalah sebagai berikut: Jeddah, terletak di sebelah barat Makkah, berjarak sekitar 74 km. Riyadh, terletak di sebelah timurlaut dari Makkah, berjarak sekitar 1000 km. Madinah, disebelah utara, berjarak dari Makkah sekitar 500 km. Thaif, di sebelah selatah Makkah, berjarak sekitar 80 km. Makkah dan sekitarnya karena terletak di lintang utara dari khatulistiwa, maka pada bulan-bulan Juli sampai dengan Agustus, seperti kota-kota lainnya di belahan bumi utara, mengalami musim panas. Udara sangat panas, bisa mencapai 540 C; pada bulan-bulan Desember dan Januari, udara angat dingin sampai sekitar 100 C. Selain karena posisi geografisnya, Makkah dan sekitarnya sangat dipengaruhi iklim gurun. Karenanya, perbedaan suhu udara antara siang dan malam bisa sangatlah kontras. Para jamaah haji, khususnya jamaah haji Indonesia, sebaiknya memahami kapan ia berangkat haji atau umrah, atau pada bulan (Masehi) apa jatuhnya musim haji? Sehingga bisa menyesuaikan perbekalan pakaian yang perlu dibawa. Apakah perlu baju hangat atau tidak? Ini sangat penting, mengingat perjalanan yang jauh dan waktu yang tidak sebentar. Sering kali kita mendapat masukan dari kawan atau kerabat yang pernah naik haji sebelum kita untuk, misalnya, membawa pakaian dan perlengkapan untuk udara panas. Mereka, dulu, waktu pergi jatuh pada musim panas. Padahal, pas kita pergi haji akan jatuh pada musim dingin. Dan, sebaliknya. Sekali lagi, kita perlu memperhatikan pada bulan-bulan musim haji yang kita akan pergi haji padanya. Makkah dan Bogor Hujan, dalam setahun, mungkin hanya 3 atau 4 kali turun. Jadi, hujan sangat jarang turun di kota ini. Pernah seorang kawan melihat tenda yang ia tempati agak terbuka ke atas. Ia sangat khawatir. Seorang lainnya yang sudah lama mukim di sana mengomentari, “Jangan khawatir, Pak! Di sini hujan turun 40 tahun sekali.” Tentu saja ia berkelakar. Tapi komentarnya itu menandakan bahwa memang intensitas curah hujan sangat rendah di sini. Bagi orang yang tinggal di Bogor, seperti penulis, hal ini sangat kontras. Di Bogor, nyaris tak ada musim kemarau; hampir tiap hari ada hujan. Antara Makkah yang sangat jarang turun hujan dan Bogor yang sangat banyak curah hujan, ternyata ada hubungan erat antara keduanya. Makkah yang jarang turun hujan itu, adalah tempat paling utama di dunia untuk berdo’a. Sejumlah tempat mustajab, terdapat di sana. Bagaimana dengan Bogor? Bogor, kota dengan curah hujan terbanyak di Indonesia adalah –merupakan salah satu- kota paling banyak menerima rahmat-Nya di negeri ini. Bukankah hujan itu rahmat? Lagi pula, salah satu waktu yang mustajab untuk berdo’a adalah ketika turun hujan! “Rugi”-lah kita, kalau tinggal di kota yang banyak hujan, tapi jarang berdo’a. Sama seperti kita berada di Makkah, tapi kurang pandai memanfaatkan waktu dan tempat ini untuk banyak berdo’a. Jadi, keduanya merupakan kota yang sangat baik untuk banyak berdo’a! Makkah dan Penduduknya pada Abad ke-5 dan ke-6 MasehiPertengahan abad ke-5, Makkah telah mengalami masa peralihan dari fase kebadawian ke fase peradaban, kendatipun peradaban dalam arti terbatas. Tatanan masyarakatnya berdasarkan prinsip-prinsip permufakatan, saling pengertian yang bersifat kebersamaan dalam tugas-tugas kemasyarakatan. Makkah adalah lembah yang diapit gunung-gunung batu di sekitarnya. Dengan adanya Ka’bah di lembah Makkah ini, maka semakin banyak orang bertempat tinggal di Makkah. Wilayah Makkah sendiri, semakin lama semakin bertambah luas. Rumah-rumah penduduk yang semula berupa kemah-kemah berubah menjadi rumah-rumah yang dibangun dari material batu dan tanah liat. Sebagai penghormatan kepada Ka’bah, pada mulanya tak ada penduduk yang berani membuat bangunan beratap segi empat. Tetapi lambat laun, sebagian di antara mereka berpendapat lain, sehingga tak sedikit bangunan beratap bersegi empat. Namun demikian, rumah-rumah yang mereka bangun tidak melebihi ketinggian Ka’bah. Penduduk yang berada umumnya mempunyai tempat peristirahatan yang mereka bangun di luar kota. Pada musin dingin, mereka menetap di Makkah, dan pada musim panas mereka tinggal di tempat peristirahatan, di Thaif. Sebagian mereka, pada musim panas pindah ke Syam (Suriah), dan pada musim dingin pindah ke Yaman. Pemuda-pemuda Makkah, terkenal menyukai kebiasaan hidup rapi, berpakaian baik dan indah. Pada masa itu Makkah telah menjadi kota dagang. Saudagar-saudagar Makkah keluar-masuk negara-negara Afrika dan Asia. Dari negeri-negeri yang disinggahinya, mereka membawa barang-barang bermutu dan dibutuhkan penduduk Makkah. Dari Afrika mereka membawa barang-barang, seperti: gading, emas, kayu, dan besi. Dari Yaman mereka membawa kulit, wewagian, dan bahan pakaian. Dari Irak membawa rempah-rempah. Dari India mereka membawa emas, timah, batu permata, gading, kayu cendana, rempah-rempah, dan za’fran. Dari Mesir dan Syam, mereka membawa minyak goreng, biji-bijian, senjata, sutera dan arak. Kepada raja-raja dan para bangsawan, mereka mengirimkan barang-barang terbaik dari Makkah. Barang yang paling disukai para bangsawan di negeri jauh itu adalah barang-barang yang terbuat dari kulit, seperti yang pernah dikirimkan oleh Abdullah bin Rabiah dan Amr bin Al- ‘Ash bin Wa’il kepada Raja Najasi ketika mereka meminta agar kaum muslimin yang hijrah dikembalikan ke Makkah. Ada pula sejumlah wanita kaya yang menjadi pedagang besar. Mereka mengirim kafilah-kafilah peniagaan ke negeri-negeri yang jauh, seperti ke Syam dan negeri lainnya. Di antara mereka, yang paling terkenal seorang bernama Handzaliyah dan Khadijah binti Khuwalid. Perdagangan di Makkah mencapai kemajuan yang demikian pesat, hingga banyak di antara penduduknya yang menjadi kaya raya. Mereka bisa mengirim kafilah-kafilah dagang dari dan ke negeri tetangga, dengan jumlah kafilah melebihi 1000 ekor unta, yang mengangkut barang-barang dagangan bernilai sangat mahal. Di antara keluarga-keluarga Quraisy yang terkenal sangat kaya dan hidup dalam kemewahan, antara lain: Al-Walid bin Mughirah, Abu Lahab, dan Abu Uhaihah bin Sa’id bin Al-Ash bin Umayyah. Yang disebut terakhir adalah pemilik sebagian barang-barang dalam kafilah yang dipimpin oleh Abu Sufyan dan ‘Abd bin Rabia’ah Al-Makhzumi. Orang kaya lainnya adalah Abdullah bin Jud’an At-Taimiy; orang yang biasa minum arak dari gelas emas. Ia terkenal pula sebagai orang yang suka memberi makan fakir miskin dan orang-orang yang kelaparan. Abbas bin Abdul Muthalib, juga terkenal sebagai orang kaya. Ia banyak mengeluarkan uang untuk menolong orang lain. Kekayaannya didapat dari pekerjaannya sebagai pelepas uang riba hingga saat datangnya agama Islam. Ketika Rasulullah mengumumkan penghapusan riba, dialah orang pertama yang menjadi sasaran larangan itu. Dalam pidato haji wada, Rasulullah saw. menegaskan :” Riba pertama yang kuhapuskan ialah riba Al-Abbas bin Abdul Muthalib.” Penduduk Makkah menaruh perhatian besar terhadap masalah keturunan dan berita-berita mengenai nenek moyang. Demikian juga pada syair-syair, astronomi, ramalan, pedukunan dan ilmu pengobatan. Mereka suka bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga dikenal sebagai nomad atau nomaden. Makkah adalah pusat keagamaan, perekonomian dan perdagangan di Jazirab Arabia. Dalam perkembangan selanjutnya, Makkah lebih merupakan kota spiritual saja. Kemudian mengalami kemerosotan di bidang kepercayaan dengan penyembahan penduduknya kepada berhala-berhala. Seperti itulah kondisi masyarakat Makkah pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Masa itu adalah masa menjelang kelahiran Muhammad bin Abdullah. Suku QuraishDalam pembicaraan mengenai Makkah dan penduduknya, kita tak akan lepas dari kata-kata quraish atau quraisy. Untuk itu, ada baiknya kita mengetahui apa, siapa dan bagaimana kedudukan suku quarish itu. Di bawah ini, secara ringkas, sekedar penghantar, dibicarakan seperlunya. Para ulama berpendapat bahwa kata “quraish” atau “quraisy” berasal dari kata “quraisy”, yang artinya apa-apa yang dikumpulkan dari sana-sini. Ulama lain berpendapat bahwa kata qurasy itu berasal dari kata “qarrasya” yang mempunyai arti berpencaharian dengan berdagang. Perihal kata “quraisy’ ini, ada yang berpendapat bahwa orang yang pertama kali memakai nama itu adalah Quraisy bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah, salah seorang yang termasuk golongan nenek moyang Nabi Muhammad saw.; ada juga yang berpendapat lain. Kitab-kitab tarikh menyebutkan bahwa setelah keturunan Ismail dan Adnan (keduanya merupakan nenek moyang suku Quraisy), di antara keturunan mereka ada yang bernama Fihr. Ia adalah orang yang sangat kuat pendiriannya dalam mempertahankan Ka’bah dari gangguan suku lain. Ketika orang-orang dari keluarga keturunan Himya dari Yaman, dengan bersenjata lengkap datang ke Makkah untuk membongkar Ka’bah dan memindahkannya ke Yaman, Fihr dengan segala daya upayanya, menolak keras usaha itu dan ia berhasil memukul mundur pasukan itu. Mereka kembali ke Yaman tanpa membawa hasil. Sejak itu, Fihr menjadi lebih dikenal di kalangan masyarakatnya. Fihr adalah seorang pedagang yang berjualan barang kepada para jamaah haji yang datang ke Makkah. Ia adalah orang yang suka memperhatikan dan membantu orang-orang yang melaksanakan haji terutama mereka yang berkekurangan. Apabila ia berjumpa jamaah haji yang menderita kemiskinan, dia akan berusaha mencari bantuan kepada orang-orang yang sekiranyanya bisa membantu. Setelah mendapatkan bantuan itu, ia mengumpulkannya dan memberikannya kepada jamaah yang berkekurangan tadi. Karena itulah ia dikenal sebagai Quraisy; artinya ‘apa-apa yang dikumpulkan dari sana-sini’. Anak-cucu Fihr kemudian dikenal sebagai keturunan Quraisy. Nama Quraisy lambat-laun menjadi nama sebuah suku bangsa yang besar dan disegani; terlebih setelah Qushayyi berhasil mengembalikan kekuasaan Hijaz ke tangan golongannya. Sejak itulah nama Quraisy menjadi nama suatu golongan bangsa Arab di kota Makkah. Dari suku bangsa Quraisy inilah, kelak lahir seorang pemimpin dunia, pembawa obor hidayah, membawa umat dari gulita malam ke mentari pagi nan cerah-ceria. Dialah jungjungan kita semua, Muhammad Rasululah saw. Agar ibadah haji kita nyambung dan tidak tulalit, Tidak bisa tidak, kita harus membaca sejarah Nabi saw. yang menjadi pemeran utama sejarah Tanah Suci, Makkah dan Madinah. Karenanya, pada bagian lain dari tulisan ini, saya ingin menyampaikannya, walaupun secara ringkas. Keutamaan MakkahSangatlah banyak keutamaan yang dimiliki Makkah al-Mukaromah ini. Keutamaan-keutamaan itu, antara lain:Tempat dimana terdapat Rumah Allah (Baitullah). Tempat yang Allah mensyariatkan kepada manusia untuk bertawaf di Ka’bah. Melalui Ka’bah, Hajar Aswad, dan Rukun Yamani, Makkah adalah satu-satunya tempat dimana Allah mensyariatkan untuk menghadap dan melambaikan tangan. Tempat yang Allah mewajibkan kepada yang mampu, untuk mengujunginya. Tempat yang di dalamnya ada satu masjid yang paling utama di dunia. Tempat yang paling mustajab untuk berdo’a. Merupakan kota kelahiran manusia terbesar sepanjang sejarah bumi. Merupakan tempat yang menjadi tujuan utama untuk menemui-Nya. Tempat yang setiap orang yang masuk ke dalamnya mendapatkan perasaan khusyu dan kerendahan hati. Tempat yang dimaksudkan untuk menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu. Merupakan Tanah Suci yang aman; diharamkan menumpahkan darah padanya. Tempat yang, kita tidak boleh menghadap atau membelakanginya ketika buang hajat. Tempat yang Allah memberikan balasan secara kontan bagi siapa yang berniat jahat, walaupun belum melakukannya. Makkah dalam Alquran dan As-SunnahMakkah merupakan kota yang paling banyak disebut dalam Alquran dan as-Sunnah. Ini wajar, karena Rasul, penerima wahyu dari-Nya, lahir dan besar di kota ini. Dalam ayat-ayat Alquran, adakalanya Makkah disebutkan secar jelas; adakalanya digunakan kata ganti, seperti: Bakkah, Ummul Qura, al-Balad, al-Balad al-Amien, al-Baldah, dan sebagainya. Ada baiknya kita lihat sejenak sebagian dari ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut. “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka” (QS. Al-Fath: 24). “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah), yag diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia” (QS. Ali Imran: 96). “Dan ini (Alquran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di sekitarnya” (QS. al-An’am: 92). “Dan ingantlah ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhlanlah aku beserta anak-cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35). “Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah); dan kamu (Muhammad) bertempat di kota ini “ (QS. Al-Balad: 1-2). “Dan demi kota (Makkah) ini yang aman” (QS. at-Tin: 3). “Aku hanya diperitahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannnya suci dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu; dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. al-Naml: 91). “Dan mereka berkata: “Jika kami mengkuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi-Ku? Tetapi kebanyakan mereka tidaak mengetahui” (QS. al-Qashas: 57). “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah Engkau yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian orang cenderung kepada mereka. Dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim : 37). Rasulullah saw. pernah bersabda ketika beliau berada di hazwarah (Pasar Makkah), “Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) ialah sebaik-baik bumi Allah, dan bagian bumi Allah yang paling dicintai-Nya; seandainya aku tidak dikeluarkan darimu, maka aku tidak akan keluar.” (HR. Tirmidzi). Pada kesempatan lain , Rasul berdabda, ” Tidak ada bumi yang lebih baik dan lebih aku sukai daripadamu (Makkah); seandainya kaumku tidak mengusirku, maka aku tidak akan tinggal di selainmu (HR Tirmidzi)

Categories: Ibadah Haji | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Catatan Ringan Dari Tanah Suci (Episode-4)

  1. Artikel ini sungguh luar biasa. Bisa mencerahkan bagi siapa saja yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh seputar masalah di atas – terutama saya – yang masih awam soal hal ini. Terima kasih sahabat !!!

  2. zeni

    Tulisan yang lahir dari ketulusan hati sang penulis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: