Catatan Ringan dari Tanah Suci (Episode-3)

Banjir di Makkah, Mina, dan Aziziyah

Kabar banjir di Makkah sampai ke Indonesia sebelum kami tiba di ibu kota. Seorang saudara kami dari Bandung kirim sms, menanyakan keselamatan kami. Ariadi, Sekjen IAGI, itu minta konfirmasi tentang kabar banjir. Teman-teman di Mina, juga kirim sms, minta dido’akan,

karena hujan badai itu. Saat itu kami sedang berada di lokasi penyembelihan kambing untuk keperluan dam, di dekat kaki Jabal Nur, masih wilayah Makkah. Ceritanya begini. Pagi, ketika sarapan di penginapan di Aziziyah, seorang kawan menawari. “Barangkali mau ikut ke tempat penyembelihan kambing?” Saya kira, tak jauh dari situ. Saya pun turut. Eh,…ternyata tak dekat. Sesampainya di tempat tujuan, tak nampak kambing-kambing itu. Rupanya, tidak hanya manusia yang suka telat datang, kambing juga sama. Hampir dua jam kami menunggu kedatangan kambing-kambing itu. Dengan berkendaraan truk, akhirnya datang juga mereka. “Pernah lihat kambing Arab?” Tak persis sama dengan kambing kita. Ayat yang mengatakan bahwa manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, boleh jadi, juga berlaku bagi binatang, seperti halnya kambing-kambing Arab itu. Mereka punya ekor pendek, dan –maaf- pantatnya besar. Menurut kawan-kawan, itu pantatnya enak disate! Angin bertiup kencang.

Pasir beterbangan. Tetapi Ustadz Othman, Ustadz Husen, Pak Reza dan beberapa kawan tak menghiraukannya. Mereka tetap sibuk mengurus kambing-kambing yang harus segera selesai disembelih itu. Bersama Pak Andi, sang pengantin baru, saya bergegas kembali ke bus. Pak Bunyamin dan Pak As’ad, juga ada di bus. Sopir bus, yang Ustadz Husen biasa panggil Bus Muhandis (muhandis artinya insinyur), adalah seorang Mesir.

Setelah mengobrol tentang keluarga, ia sholat dzuhur di trotoir, sebelah bus diparkir. Pak Andi, yang usianya lebih muda dari saya tapi sudah beberapa kali ke Tanah Suci, ini mengajak saya shalat di masjid, yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat parkir bus. Kami sholat dzhuhur dan ashar di masjid yang tak bersih itu. Keluar masjid, menuju bus lagi, kami berjalan dengan menempelkan lengan ke mata, melindunginya dari butir-butir pasir yang beterbangan.

Kami sampai di bus. Angin tetap bertiup kencang. Bus yang sedang diparkir itu beberapa kali bergoyang. Sekitar ashar, penyembelihan berakhir. Ada satu hal yang belum kami lakukan : makan siang. Pak Reza mentraktir kami makan siang (a very late lunch) di sebuah rumah makan. Saya makan satu nampan dengan salah seorang sopir bus (ada 2 sopir di bus kami, laiknya pilot dan co-pilot di pesawat) dan Pak Thabrani, seorang Banjar yang lama mukim di Makkah.

Sementara kawan-kawan lain makan dengan agak pelan (mungkin ngeri lihat besarnya ayam yang dihidangkan), saya dan dua kawan tadi sangat tangkas membersihkan itu ayam. Enak juga! Saat makan siang itulah, kami lihat di luar sangat gelap, padahal belum maghrib. Kami coba melihat ke atas, langit mendung. Tak lama kemudian, turun hujan lebat disertai angin kencang.

Selesai makan, kawan-kawan yang belum shalat, shalat di rumah makan yang tak besar itu. Setelah urusan makan dan shalat selesai, dan berpindahnya riyal dari tangan Pak Reza ke pihak rumah makan, dengan jari-jari bersilang menutup kepala, melindunginya dari hujan, saya, juga yang lain, kembali ke bus. Dari dalam bus, kami lihat arus air di jalan raya, sangat deras.

Pertama, kami lihat rambu-rambu lalu lintas yang terbuat dari plastik tebal, berwarna orange itu, hanyut. Bahkan ada yang hanyutnya menyalip mobil di depan kami. Selanjutnya, kami lihat mobil-mobil yang diparkir, “tak mau ketinggalan”, ikut terbawa arus. Beberapa di antara mobil itu, ada yang naik ke mobil yang lain! Ada yang berada dalam posisi seperti orang sedang tidur dalam posisi miring, ada juga yang “terparkir” di tanah yang lebih rendah dari jalan raya dalam posisi tidak wajar.

Jalanan macet. Pak Thabrani dan Ustadz Husen sibuk membantu sopir menjadi navigator, mencari jalan alternatif untuk kembali ke Aziziyah. Setelah belok sana, belok sini, sekitar pukul 20.00, kami tiba di Mina. Bus jalan perlahan, pelan, dan makin pelan. Macet! Kecuali Pak Thabrani dan Pak Sopir, semua sepakat untuk turun dari bus dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Kami berjalan di depan tenda-tenda putih yang dibangun pemerintah Saudi.

Dari luar, tenda-tenda itu tampak utuh. Tetapi, menurut informasi dari seorang kawan, yang saat itu ada di dalam tenda, kondisi dalam tenda basah kuyup, banyak barang, termasuk alas kaki, yang tidak terselamatkan. Hanyut dibawa arus air. Akan halnya tenda-tenda darurat di pinggir jalan, di depan tenda-tenda putih itu, sudah tak satu pun terlihat. Beberapa bangkai tenda, kasur, dan perlengkapan jamaah lainnya, tampak berserakan di jalanan dalam kondisi, tentu saja, basah kuyup.

Saya tak tahu kemana berlindungnya para jamaah yang kemarin memenuhi jalanan dan bermalam di situ dengan beratapkan langit. Banyak di antara para jamaah itu membawa anak kecil dan bahkan ada yang bawa bayi. Yang jelas, mereka pasti sangat menderita. Di jalanan, walaupun sudah surut, air masih mengalir. Kami berjalan memilih jalan yang paling mudah, yang airnya sedikit.

Seorang ibu, jamaah Thailand, yang sedang berdiri dalam genangan air di pinggir jalan, berceritera kepada saya bahwa ada beberapa korban terbawa air. Saya tak bisa memastikannya. Seorang kawan yang saat turun hujan sedang berada di sekitar Mudzdalifah, melihat Mudzdalifah sudah menjadi lautan. Kawan lain yang berada di Mina dan waktu itu sedang tepat di Terowongan Mina, menceritakan kepada saya bahwa air dengan ketinggian sampai lutut, mengalir dengan sangat deras dalam terowongan. Jamaah tidak bisa memotong, menyebrang sungai dadakan ini, karena derasnya itu.

Tak ada yang berani memotong arus “sungai” ini. Siapa berani, pasti hanyut! Kami terus melanjutkan perjalanan, sementara Pak Bunyamin, jamaah dari Garut yang baik hati ini, harus rela berjalan dalam genangan air tanpa alas kaki, karena sandalnya diajak pergi sama air. Setelah agak lama berjalan kaki, keluar masuk genangan air, seorang kawan menengok ke arah belakang, “Itu bus kita!” Rupanya, bus yang tadi kami tinggalkan, sedang maju dengan tenang, nyaris mendahului kami.

Kecuali yang sudah telanjur jalan jauh, yang dipanggil-panggil namanya tak muncul jua, semua kembali ke bus. Beberapa kawan komentar, “Kalau tahu begini (bus bisa jalan, dan bisa menyusul kami yang berjalan kaki), mengapa tadi harus berbasah-basah seperti ini!” Kini semua ceria di dalam bus. Kami melanjutkan perjalanan ke arah Aziziyah.

Ketika bus mendekati lokasi jumrahtul_’Ula, sebagian kami turun lagi dari bus, hendak meneruskan perjalanan dengan mempersingkat jarak, dengan jalan kaki, sebagian lainnya tetap di bus. Menjelang jam 21.00 kami tiba di penginapan di Aziziyah. Kedua “tim” mencapai penginapan dengan selisih waktu belasan menit saja.

Setelah mandi atau sekedar cuci muka, tangan dan kaki, kami meneruskan acara rutin, yang malam ini terlaksana agak terlambat (karena perjalanan tadi). Acara itu adalah makan malam lesehan, berjamaah. Nikmat. Alhamdulillah. Mengapa Terjadi Banjir?Kota Makkah, Mina dan Aziziyah adalah lembah-lembah di antara perbukitan bermorfologi kasar.

Batuan Dasar/Basement berupa batuan beku, tersingkap di permukaan, baik di perbukitan maupun di pedataran. Karenanya bisa dikatakan tidak ada daerah resapan di sini. Di negeri kita, ke arah mana pun pergi, kita bertemu sungai. Di Makkah, Mina dan Aziziyah, tak mudah menemukan sungai. Di Jakarta, atau di kota mana pun di Indonesia, hampir bisa dipastikan, di pinggir jalan raya, ada selokan. Sehingga kalau terjadi hujan, air dari jalan raya akan ditampung oleh selokan itu.

Di Makkah, Mina dan Aziziyah, di pinggir jalan raya, saya tidak menemukan selokan. Pikir mereka, barangkali, buat apa bikin selokan, toh turun hujannya juga sangat jarang. Lagi pula, karena batuan dasar tersingkap di permukaan, tidak mudah melakukan pekerjaan pembuatan selokan itu! Kondisi demikian menyebabkan, apabila turun hujan –apa lagi hujan lebat- air dari perbukitan itu turun ke jalan raya dengan kecepatan lumayan.

Jalan, pada saat-saat seperti itu, berfungsi menjadi sungai. Ia meneruskan air yang ditampungnya ke daerah lebih rendah. Karena ia ‘edang berfungsi sebagai sungai, maka ia akan menghanyutkan apa yang bisa dibawanya, tergantung besarnya air dan kuatnya arus. Kala itulah, mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan dan sekitarnya, dibawa serta oleh arus air. Jadilah seperti apa yang terjadi.yayasan ar-rahmah red:

Categories: Ibadah Haji | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: