Tentang Pernikahan Dini

Berita di surat kabar, siaran televisi, pembicaraan orang di banyak tempat, dan pertanyaan kawan2 seputar pernikahan dini seorang anak muda belia, Ulfa dengan seorang yang telah berumur di atas 40 tahun, pimpinan sebuah pesantren, atau lebih tepatnya seorang tua (siapa pun) menikahi anak usia dini –dan, apalagi, dikait-kaitkan dengan hadits Nabi SAW- tidak bisa tidak mengusik saya untuk menyampaikan hal ini.

Bukhary & Muslim, dari Hisyam bin Urwah, menyampaikan berita bahwa Aisyah dinikahi Nabi SAW pada usia 6 tahun. Keterangan lain menyebutkan, “Dan, hidup bersama sbg suami-istri, 2-3 tahun kemudian.”

Teks hadits ini sangat kontroversial & mengundang perdebatan di banyak forum. Para orientalis menggunaknnya sbg salah satu ”senjata” menyerang Islam. Bahwa Nabi orang islam itu, menikahi anak di bawah umur! Eeeh…, seorang di Indonesia, dg merefer ke hadits tsb, berkehendak menikahi seorang Ulfa yg baru berusia 12 tahun!

Memang, hadits, pada dasarnya hampir tak beda dg Alqur’an. Wa maa yantiqu ’anil hawaa, in huwa illaa wahyu yauhaa. Dan tiadalah yg diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yg diwahyukan kepadanya (QS. An-Njm: 3-4). Jadi, perkataan nabi SAW senantiasa dikontrol oleh wahyu. Pasti benarnya.

So, ..tidak boleh tidak percaya pada hadits!

Permasalahannya adalah, apakah yg kita baca, yang kita dengar, atau pernyataan orang bahwa itu hadits, benar2 hadits. Benar2 disampaikan oleh Nabi SAW? Shahih kah hadits tsb? Tidak sedikit perkataan orang yg dinisbahkan kepada Nabi SAW. Bahwa Nabi SAW mengatakannya atau melakukannya, padahal tidak!

Yang sudah dikelompokkan dalam kitab2 hadits pun, tidak serta merta, begitu saja kita menilainya sebagai hadits. Kita perlu mempelajarinya, apalagi berkenaan dengan hal2 yg sekiranya agak mengundang pertanyaan di benak kita akan redaksi atau isi itu hadits.

Paling tidak, hadits dinilai dari sanad, rawi & matannya. Sanad ialah runtutan orang2 yg menerima itu berita, sejak dari Nabi SAW hingga diterima rawi. Rawi sendiri adalah yg meriwayatkan itu berita, misal Bukhary, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Turmudzi, Ahmad, dst. Sedangkan matan, adalah isi teks hadits tsb. Mohon maaf, kalimat ini tidak dibaca oleh kawan2 yg pernah belajar ilmu hadits. Ustadz & ustazah, dilarangkeras membacanya! Ini mah untuk konsumsi kawan2 yg sama sekali belum pernah dengar akan hal ini).

Yang paling utama perlu kita lihat dari hadits adalah matannya. Apakah ia bertentangan dengan Alqur’an atau tidak. Jika bertentangan, siapa pun yg meriwayatkannya, itu hadits bisa menjadi lemah (dhaif) statusnya. Nantilah, kapan2, saya ingin menyampaikan tentang ulumul hadits (ilmu2 tentang hadits).

Benar bahwa kita harus percaya hadits. Jika tidak, bagaimana kita bisa menjalankan detil ibadah keseharian. Tetapi, itu tidak berarti hadits tidak boleh dikritisi.

Adalah perlu diingat juga, hadits ditulis di kemudian hari, sekitar 200-an tahun setelah Rasulullah SAW pergi. Ada rentang waktu yg sangat panjang antara waktu Rasulullah SAW menyampaikannya sampai ke waktu pembukuan itu hadits. Tidak aneh, kalau redaksi antara 1 hadits dg lainnya, sering tidak sama. Cobalah buat simulasi di antara kita dg mengucapkan sebuah kalimat yg agak panjang (hadits biasanya dlm kalimat yg panjang. Namanya juga berita!). Sampaikan itu kalimat kepada kawan kita yg duduk atau berdiri di sebelah kita. Kawan kita itu, meneruskan ke yg lainnya. Terus demikian sampai yg ke- 7 atau ke-10 orang lainnya. Sangat besar kemungkinan, bunyi kalimat yg terakhir dari orang ke-10, akan berbeda. Tak jarang, muatan utamanya hilang. Apakah ini tak bisa terjadi pada hadits?

Benar, itu hadits2 diseleksi sedemikian ketat. Tapi juga, ini bukan larangan untuk menelitinya kembali. Ada pandangan di antara sebagian kita, kalau hadist tsb terdapat dalam kitabussitah, atau Shahihain (Bukhary & Muslim), berat kita untuk mempertanyakannya. Mari kita buka kembali itu kitab2 hadits. Tidak sedikit kita bisa jumpai hal2 yg ketika kita membacanya, hati kita bertanya,” How come?” Bgmn ini bisa terjadi?. Sy bisa berikan bbbrp contoh di Bukhary, kalau perlu, nanti sy sampaikan di sini.

Memang dg mempelajari musthahul hadits atau lebih luas lagi ulumul hadits akan membantu kita utk “belajar” memahami hadits. Kajian sejarah, seperti halnya dalam ulumul Qur’an (utk kajian tarikh Nabi SAW & para sahabat), mutlak diperlukan juga dlm mempelajari hadits

Akan halnya, case pernikahan dini atau case sejenis, barangkali perlu kita mafhumi bahwa tidak semua hadits (merefer ke definisi hadits: sgl sesuatu yg dinisbatkan kepada nabi SAW, meliputi perkataan, perbuatan, atau perkataan/perbuatan sahabat yg nabi hadir di situ, dan Nabi OK alias setuju) perlu kita lakukan/tiru. Perlu juga ditambahkan di sini (sekali lagi bagi yg sama sekali awam tentang hadits), sahabat adalah orang Islam –siapa pun ia-, hidup pada zaman Nabi SAW, dan pernah bertemu dengan Nabi SAW).

Kalau Nabi SAW, misal, ketika berkhutbah beliau batuk 3 kali, tentu tidak dianjurkan kita mengikutinya. Batuk itu hadits tapi bukan yg dianjurkan untuk diikuti. Sebut saja ,misal, hadits tentang Aisyah dinikahi Nabi SAW dalam usia 6 tahun (Bukhary) itu benar2 terjadi, hemat saya itu termasuk hadist yg kita tidak dianjurkan mengikutinya. Untuk memudahkan dalam memahami hal ini, ada ulama yg mengelompokkannya sbg hadits, utk yg tidak dianjurkan kita mengikutinya ini, : dan sunnah utk yg kita dianjurkan. Batuk ketika khutbah, menikahi Aisyah dlm usia dini (sekali lagi kalau ini benar), itu adalah hadits. Shalat pada awal waktu, banyak bersedekah,dll adalah sunnah.

Di samping itu, dalam kaidah ushul Fiqh, kita mengenal –salah satunya- mashalih mursalah. Prinsip mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (tidak perlu ditambahkan kata2 ”kepentingan golongan”, takut disangka kampanye). Apakah dg menikahi seorang anak gadis berusia demikian muda tidak mengakibatkan efek yg kurang baik akan citra agama yg dianutnya thd pandangan orang lain yg memang mempertanyakan hal ini? Dll. dll.

Apa lagi kalau kita berbicara masalah UU perkawinan, yg secara “fikih” nasional adalah bagian dari aturan yg perlu ditaati.

Kalau ada waktu, ada baiknya kawan2 buka juga Alqur’an, An Nur, ayat -32 & Ar Rum ayat-21. Renungkanlah maknanya.
“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang2 yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan.” (Annur: 32)

“Dan dinatara tanda2 kebesaran-Nya ialah dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Rum: 21)

Dari 2 ayat di atas, setidaknya kita menagkap pesan bahwa yang akan nikah atau ditikahkan adalah telah dewasa dan layak nikah, serta telah mempunyai perasaan cinta dan kasih sayang.

Mari kita bertanya pada hati kita masing2, apakah anak usia 12 tahun sudah memiliki apa yg terkandung dalam ayat di atas?

Di bawah ini saya sertakan hasil penelitian T.O. Shanavas di Michigan, USA hal berpa sebenarnya usia Aisyah ketika menikah dg Nabi SAW. Selamat menikmati!

Salam hangat

Jonih Rahmat

P.S.: karena ini berbicara tentang kebenaran, juga menangggapi case yg sdg rame dlm pemberitaan umum, sy kirimkan ini e-mail, tidak ke kawan2 yg muslim saja.

Categories: Karya Tulis | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: