Kekerasan

Tadi malam, anak-anak di rumah, mendesak saya untuk ”bagaimana kita bersikap atas isu2 yang lagi hangat (lebih tepatnya, panas)” yg terjadi di ibukota. Kebetulan, minggu2 –bahkan- bulan2 terakhir ini, pada hari2 weekend, saya lebih banyak ke luar Ciomas, kediaman saya. Saya & istri, kadang dengan anak –kalau pas tak bentrok acaranya, keluar–masuk pesantren di beberapa kota di Jawa barat, mencari pesantren buat putra kami yang ke-2, sekaligus untuk wisata rohani, bertemu orang-orang saleh. Kegiatan ini,mengakibatkan, hanya sebentar2 sekali kami ngobrol dg anak2 –yg sebagian sudah mahasiswa, itu.

Tadi malam, sehabis mereka menghadiri tahlilan, saya sampaikan pengantar saja kepada mereka bahwa kita harus mengedepankan akhlak. Dengan siapa pun kita berhadapan. Masalahnya, bukan kita berpihak pada golongan ”A” atau golongan “B”, melainkan hubungan antar manusia dengan manusia. Agama mengajarkan (kata para ustadz), terhadap makhluk lain pun ada etikanya. Tidak dibenarkan merusak tanaman, mencederai hewan, apalagi terhadap manusia.

***

Tuhan mengutus nabinya untuk menyempurnakan akhlak yg mulia. Tuhan pula mengajarkan, apabila kita berbeda pendapat dengan orang lain, agar melakukannya dengan cara yg baik, sopan-santun, lemah-lembut, tidak dengan kata2 kasar, dan dilarang keras melukai kawan yg berbeda pendapat itu.

Berkata kasar, menyakiti hati orang lain, berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim, dan menganiaya orang lain dalam literatur agama (sekali lagi, menurut para ustadz) disebut al baghyu. Al baghyu sangat dimurkai Tuhan dan termasuk salah satu dari dua dosa yang akan disegerakan siksanya, di dunia ini juga.

Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Agama adalah akhlak (budi pekerti yg baik).” So, jika akhlak sudah tidak diindahkan, akan di mana agama diletakkan? Banyak orang berbuat untuk agama; tidak sedikit orang menggunakan agama. Agama diatasnamakan. Boleh jadi, niat semula berbuat untuk agama, dalam perjalanan –karena khilaf atau hal lain- agama tertinggal, sehingga faktor lain menggantikannya. Tidak mustahil, kita merasa di opsi pertama, niscayanya kita berada di opsi-2. Wallahu ’alam.

Oleh Bapak H. Jonih Rahmat

Head of the foundation ar-rahmah Bogor

Categories: Artikel | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: