MALAIKAT CINTA ***Sisi Lain Ibadah Haji yg Menyentuh Hati***
30 Sep 2011 Leave a Comment
in Ibadah Haji, Karya Tulis, Motivasi
“… ceritanya seru dan very inspiring.”
Erry Ferliani, Jakarta.
“Membaca pengalaman haji Kang Jonih, saya meneteskan air mata.”
Helmy Djamil, Singapura.
“Sejujurnya saya sampaikan, jadi ingin pergi haji lagi!”
Benny Bensaman, Papua.
”Imajinasi saya langsung turut merasakan kehadiran di lokasi bagaikan kamera!”
Slamet Budhiharto, Bandung.
“Ingin tertawa, ingin menangis juga. Bahasanya sederhana, namun penuh ‘pengalaman mistis”’.
Arif Mulyadi, penulis buku laris “Dicintai Allah dengan Shalawat”.
“Buku ini menggiring saya untuk makin bergelora agar segera berkunjung ke tanah suci. Haru, senang, sedih, dan takjub; disajikan dengan rancak oleh penulisnya.”
Dodi Mawardi, penulis buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”.
“Buku tentang berhaji yang bahkan untuk saya yang tidak wajib berhaji terasa begitu inspiratif. Keluwesan bertutur dan keluasan cakrawala pengetahuan penulis membuat buku ini amat layak Anda baca hingga titik terakhir!”
Anang Y.B., penulis buku autokritik “Sandal Jepit Gereja” & pengelola www.GhostwriterIndonesia.com.
“Tuhan bersabda, ‘Mintalah, maka itu akan diberikan kepadamu’ (Luk11: 9). Pengalaman penulis menunaikan ibadah haji merupakan bukti bagaimana Tuhan menepati sabda-Nya. Dituturkan dengan ringan namun penuh makna, buku ini merekam perjalanan seorang hamba ke rumah Tuhannya dan menginspirasi pembacanya, tidak hanya umat Islam, untuk juga melakukan peziarahan mereka sendiri.”
Woro Ireng Renoati, psikolog.
“Ibadah haji sesungguhnya adalah perjalanan cinta seorang hamba menuju Sang Maha Pencinta. Dan ketika cinta yang menjadi landasannya maka segala keajaiban akan terjadi. Dengan gaya bahasa bertutur yang mengalir lancar Jonih membuktikan berbagai keajaiban yang ia alami sendiri. Sesuatu yang bisa terjadi pada siapa saja yang melakukan sesuatu dengan penuh cinta.
Arvan Pradiansyah, penulis best seller “The 7 Laws of Happiness” & Narasumber talkshow Smart Happiness di SmartFM Network.
“Ada ajaran agama berupa teks Kitab Suci yang kita amalkan menjadi ibadah lahiriah formal, lalu kita sertai dengan kontemplasi yang mendalam sehingga menjadi pengalaman spiritual yang transendental, lalu dimanifestasikan berupa cinta terhadap sesama menjadi karya-karya sosial; maka sempurna-utuhlah agama itu. Jonih sudah memelakukan dan mengalami itu semua. Ia telah merasakan nikmatnya beragama yang penuh makna, bukan semata citra; agama yang kemesraan bersahabat dengan Tuhan sama indahnya dengan kemesraan bercengkrama dengan anak yatim dan fakir miskin; agama yang rahasia Tuhan menjelma menjadi tawa ceria kaum dhuafa. Jonih sudah bisa bercanda dengan Allah. Dengan buku ini Jonih membukakan pilihan bagi kita bagaimana memaknai haji: sekadar ritualisme berbalut shopping atau dengan jihad berbalut takwa dengan pulang membawa oleh-oleh cinta universal.”
Ustaz Wahfiudin.
“Kisahnya mengharukan, menyentuh kalbu, menggugah rasa, mampu menginspirasi dan menggerakkan Anda untuk semakin mencintai Nabi dan Sang Pencipta. Anda juga akan menemukan puisi rohani dan doa-doa yang sangat indah dan bisa Anda gunakan.” (gramedia.com)
Tidak ada tangga menurun
02 Jun 2010 1 Comment
in ada ajah

lihat titik tengah(fokus) beberapa saat, kemudian apa yang terjadi? [yang terlihat hanya titik tengah saja]
Download smadav versi Rev. 8.7.2 1 Oktober 2011 klik disini
http://goo.gl/2XBaz
Download Winrar
http://goo.gl/UKmTC
Mengapa Bapak Meninggalkan Febri?
01 Jun 2010 Leave a Comment
Mengapa Bapak Meninggalkan Febri ?*
Febri, gadis remaja, hitam manis, asal Tegal, sejak SD kelas 1, ditingggal pergi bapaknya dan hingga kini tak kembali. Sejak itu, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga di Jakarta; sementara Febri tinggal di sebuah yayasan yatim di Ciomas, Bogor.
Febri dilahirkan di Kampung Dukuh Waru, Kecamatan dan Kelurahan Dukuh Waru, Kabupaten Tegal, 16 tahun lalu. Kini, Febri sudah remaja, bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah di Bogor.
Waktu usia 2-3 tahun, Febri dan kedua orang tuanya pernah tinggal di sebuah rumah kontrakan, di Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Bapaknya, Waljono, mencari nafkah dengan berjualan ketoprak, sementara sang ibu mengurus Febri kecil di rumah. Uang hasil berjualan ketoprak sering habis dipakai modal bermain judi.
Di rumah kontrakan, selain keluarganya, ikut juga menumpang 2 adik dari Pak Muljono yang sedang menuntut ilmu di sebuah sekolah pelayaran.
Setelah satu tahun di Parung Panjang, dengan suami yang hobi main judi, sang Ibu, Jamilah, merasa kelelahan. Ia dan si kecil Febri memutuskan kembali tinggal di kampung. Tak lama kemudian, suaminya menyusul dan hidup bersama kembali di desa. Muljono meneruskan jualan ketopraknya.
Seorang tetangga, bekerja di perusahaan pelayaran, menawarkan sebuah pekerjaan di Merauke. Singkat cerita, bekerjalah Muljono di perusahaan itu. Setelah 2 tahun, Muljono kembali ke kampung, menjemput Jamilah untuk tinggal bersama di Merauke. Jamilah menolak pergi. Tanpa didampingi anak istri, Muljono kembali ke Merauke. Sejak itulah sang Bapak, Muljono, tak pernah kembali.
13 Maret 2010, bersama 4 temannya dari Yayasan Ar-Rahmah, Febri tidur di Novotel, Bogor. Ia bercerita tentang Hotel itu:
“Kamarnya enak, nyaman, kasurnya empuk, ada hiasan dinding, ada telepon; lantainya dari kayu, bagus, klasik, asri, selimutnya anget, bantalnya banyak; kalau suhu kamar terasa panas, tingal nyalain AC; ada TV warna hitam, flat, chanelnya banyak, bisa nonton dari atas kasur, dari kursi, atau dari lantai sambil selonjor; kamar mandi ada 2, terpisah, sabunnya bagus, kaca cerminnya gede, ada air panas dan air dingin; kalau perlu godok air hanya tinggal nyolokkan ke listrik, 2 menit sudah mateng; ada kursi untuk santai di teras; dan karyawannya ramah-ramah.”
Saya tanya, “Apa yang Febri akan lakukan setelah selesai sekolah?” Ia diam sejenak, air matanya bercucuran, terbata-bata ia berkata, “Akan mencari Bapak. Akan menanyakan, mengapa Bapak meninggalkan Febri?”
Novotel Bogor, 14 Maret 2010
*Seperti dituturkan Febri kepada ayah angkatnya di Yayasan Ar-Rahmah.
Peta kebun raya bogor
01 Jun 2010 Leave a Comment
in News Tags: peta kebun raya bogor
Exit tol jagorawi – ambil jalur kanan menuju kota bogor sempur -> hotel salak -> Bogor Trade Mall lurus sekitar 200 m sebelah kiri pintu masuk utama
kalo Anda dari stasiun bogor tinggal naik angkot 03 sukasari. bisa juga jalan kaki kira kira 600 meteran.
BOTANI SQUARE
-exit toll jagorawi ambil jalur ke kota bogor kemudian putar balik di tugu kujang
KANTOR WALI KOTA BOGOR
-exit toll jagorawi ambil jalur ke kota bogor kemudian ambil ke arah sempur/ciomas/darmaga
HOTEL SALAK
- Exit toll jagorawi ambil jalur ke arah kota bogor ambil ke arah sempur
THE JUNGLE
- Exit toll jagorawi ambil jalur ke arah kota bogor, ambil arah pasar bogor kemudian putar di sukasari
Bantuan Dana Pendidikan
01 Jul 2009 Leave a Comment
in News
Saat ini yayasan Ar-Rahmah membutuhkan dana sekitar Rp. 189.000.000,- dengan rincian sbb:
-Biaya Pendaftaran Ulang
-Biaya Registrasi/ Masuk PTN
-Biaya Untuk Anak SMA
Untuk para Donatur semoga Allah swt membalas dengan pahala yang berlipat ganda dan dimudahkan dalam segala urusan.




